Membaca Iklan Peti Mati

22 08 2011

ditulis oleh: Bambang PK

Pagi-pagi, Kanjeng Raden Tumenggung Ongkodiningrat atau biasa dipanggil Kakek Oong atawa Ndoro Kanjeng telah ngedumel, “dasar iklan gak tahu etika. Gak bisa menghargai orang. Pikiran keblinger!”

John Sosiawan, mahasiswa Sosiologi dan aktivis di sebuah perguruan elite, yang siap berangkat ke kampus pun terpaksa berhenti. Menengok sebentar sambil bertanya, “Ada berita apa Kek?”

Masih dengan jengkel, Kakek Oong pun menyodorkan koran yang dipegangnya. Judul tulisannya, “Heboh Pengiriman Peti Mati di beberapa Kantor Iklan, konsultan, pesohor dan Media.”   Itulah berita yang kini bikin heboh di Jakarta. Demi alasan promosi, Sumardy, CEO BUZZ & Co,  ingin meluncurkan buku Rest In Peace Advertising: The Word of Mouth Advertising. Alih-alih mendapat simpati, aksinya malah menuai kecaman. tak terkecuali Kakek Oong.

“Coba John, kamu yang katanya belajar Sosiologi Iklan, jelaskan model apaan ini?” cecar Kakek Oong pada cucunya.

“Ini fenomena dunia populer, Kek!” jawab John sedikit ragu, soalnya gak yakin juga apa bener atau tidak.

“Heh….apa itu dunia populer? Omong yang jelas dong!”

“Yah…ini istilah gaul orang muda Kek!” jawab John sekenanya. Karena ia lupa betul penjelasan dosennya. Mungkin ketika dosennya ngasih tahu, ia pas ijin ke toilet. Habis, John emang selalu gemetaran jika diajar dosen killer yang galaknya tak ketulungan. Ditanya malah balik tanya, kalau jawab malah salah. Habislah John, teman kita ini. Bahkan, kalau dihitung-hitung, selama 90 menit waktu kuliah, ia telah ijin ke toilet lima kali. Jadi, kalau ke toilet butuh waktu 3 menit, ia telah habiskan 15 menit hanya untuk kepentingan buang air kecil dan sedikit melepas ketegangan.

Sebelum kakeknya mencecar dengan pertanyaan lanjutan, ia pun telah ngacir pergi kuliah.

Ini dia yang dicari-cari John. Theo Komar, sohibnya yang kuliah di Program Studi Komunikasi dan sering dipanggil mesra oleh sahabatnya sebagai Si Kokom, meski ia sendiri ingin dipanggil Theo. Sebuah niat mulia yang tak terlaksana.

“ ah…itu sih dikecam karena mengabaikan soal etika. Ini aku kutipkan pendapat dari pakar pemasaran paling jago se Indonesia raya. Itu bukan hal baru dalam dunia periklanan. Cuma kiriman peti mati itu bikin tidak senang yang dikirimi. Iklan yang baik itu harus bisa membuat senang.” Jelas Kokom dengan semangat dan seperti biasa, tak ketinggalan mengutip teori-teori Komunikasi kebanggaannya.

“advertising is a political economy of sign values, and advertisements are vehicles for producing commodity- signs. As a system of signification, advertisements compose connections between the meanings of products and images.” Tiba-tiba muncul suara nyaring. Siapa lagi kalau bukan, Feminita, yang selalu mengaku penggemar filsafat dan aktivis feminis. Kalau baca iklan yang kritis dong! iklan telah menjadi culture. Iklan adalah soal framing of meaning.  Dus, itu bukan kematian melulu, tapi juga bisa dimaknai sebagai kritik terhadap hancurnya moda komunikasi, kematian jurnalisme, kematian idealisme, kematian kreativitas dan kematian kebudayaan kita. Ingat bro, advertising is also a reflection of society.

“Lalu, etika dimana Fem? curiga Si Kokom. Ia penasaran, kok risalah itu tak diajarkan di kelas.

“Relatif!” jawab Feminita sambil mengeluarkan buku acuannya, Robert Goldman, Reading Ads Socially.

Tiba-tiba, melayang sebuah guntingan iklan parfum yang menawarkan diskon dari sela buku!


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: