Beli Camilan dan Hampir Debat Kusir

22 08 2011

Beli Camilan dan Hampir Debat Kusir

ditulis oleh: Pouk

Pagi-pagi sudah diraba-raba sama ibu yang punya kios di depan lapangan sepak bola, tak jauh dari tempat aku ngekos.

“Ini dua ribu lima ratus, trus sama yang satu ini seribu lima ratus isinya kacang hijo.” Ibu itu menjelaskan harga barang dan jari telunjuknya mengarah dekat ke dadaku. “Untung saja saya bukan HETEROphobia,” gumamku dalam hati. Ibu ini pagi-pagi sudah mikir yang saru-saruan atau aku yang salah make kostum ya? Pagi ini cuacanya agak cerah makanya pakai baju dalam atau rompi saja supaya dapat vitamin D gratisan dari mentari.

Setelah itu dia masukan jajananku ke dalam tas kresek hitam. “Gak usah Bu, ntar nambah sampah di kosku,” kataku menolak. Begitu mau beranjak balik ke kos, dia memberhentikan aku dengan pertanyaan: “tuh, anak ibu kosmu nikahnya kemarin. Kamu tau gak?”.

“Wah… Bu aku sering keluar jadi gak tau kalo ada acara di kosku. apakah Ibu ikut acara perkawaninannya?” “Gak ikut. Soalnya semua orang di sini tidak dapat undangan.” (hahahahah) aku cuman tertawa saja, jangan-jangan ibu ini menyesal karena gak diundang dan kali ini dia gak punya teman untuk menggosipin sesama ibu-ibu di Janti.

Dia mulai bertanya lagi “Kamu sering keluar? Cari apa? Cari cewek ya? Katanya cowok yang nikah sama anak-ibu kosmu itu dari asrama sebelah asrama mahasiswa kota Tarakan.” I don’t fucking care about her gossip. Saya mencoba untuk mengalihkannya dan lebih fokus untuk menjawab pertanyaannya mengenai cari cewek. “Bu, aku tuh gak doyan ama cewek, aku sering keluar tuk cari cowok getooo Bu.”

“Wah itu gak normal, kalau kamu cari cewek sampai dapat lima atau lebih, itu gak apa-apa, kalo kamu cari cowok hanya dapat satu pun itu udah melawan kodrat. Kodrat manusia itu yah… cowok sama cewek.” Dia mengira aku hanya bercanda lalu bertanya lagi, “Apakah kamu memang begitu?”
“Iya Bu,” jawabku.
“Kamu jangan melawan arus, kamu harus mengikutinya saja. Itu kan sudah diatur dalam agama dan masyarakat, cowok harus sama cewek. Keinginan seperti itu harus hindari.”
“Wahh.. Bu tapi kan ada kenikmatan tersendiri.”
“Bagaimanapun itu tetap dosa, kalau arus sungai kamu boleh melawan, tapi ini arus….”
“Bu arus apapun aku mau melawannya hanya untuk mendapat kenikmatan,” kataku memotong. Dan ibu itu mengulangi lagi statement sebelumnya. ”Kamu tidak normal….!”

Pagi-pagi udah diajak untuk debat kusir, padahal awalnya dia hanya mau gosipin ibu kosku dan keluarganya. Yah… pasar itu memang bukan tempat untuk jual beli, tetapi tempat untuk membangun hubungan-hubungan sosial, atau tidak sekedar transaksi. Ibu itu berusaha akrab denganku tapi responku dari jawaban-jawabanku kurang bersahabat. Tapi toh, nyatanya dia terus saja menggosipkan sesama perempuannya.

Dan satu hal yang membuatku heran adalah argumennya yang tidak mengenal penindasan. Walaupun seorang perempuan, tapi tetap juga senang kalau saya pacaran atau dalam bahasanya ‘menggaet’ (dapat cewek). Secara tidak langsung perempuan juga bisa mengobyektivikasikan (mengsubordinasikan) sesama perempuan. Bukan hanya laki-laki yang bisa melakukannya. Pandangan perempuan ini diperkuat lagi dengan pemahaman ajaran agama melalui penafsiran para elit agama yang merasa baik-baik saja, malah keenakan kalau cowok melakukan poligami (ingat, poligami beda dengan poly amour!).

Dan satu lagi tentang pasar, perempuan itu telah merusak hubunganku dengan dia yang selama ini baik-baik saja. Strategi pemasaranya kurang bagus karena dia telah terang-terangan menolak satu pelangangnnya dengan pandangan-pandangannya yang sangat bias gender di hadapan seorang gay.
Untung saja saya tahu bahwa dia bukan anak kuliahan atau sekolahan; tapi tetap sama saja. Dia tidak buta huruf, hanya saja mungkin belum dapat bacaan-bacaan tentang gender. Bagaimana mereka bisa membaca buku-buku tersebut kalau sebelumnya mereka sudah diajarkan untuk menolak buku-buku yang membahas masalah gender yang tidak hanya membicarakan ketimpangan dalam relasi heteroseksual.

Coba kalau ibu itu lulusan sarjana, yakin choyyy.. saya tidak akan belanja lagi di kios-nya. Sadar dong… LGBTIQ itu ada di mana-mana. Kalau kamu mendiskriminasi mereka, kamu akan kehilangan teman, suami, istri, anak, orang tua, guru, dosen dll… (atau pelanggan sekalipun bagi yang berdagang, seperti pengalamanku pagi ini).
Obrolan kami berakhir ketika hpku berbunyi. Walahhh ibu itu sempat bilang, “Hayoo tuh dari siapa?!” Bingung juga ibu itu over-care sama aku hahahahaha…. Kalau saja dia tahu, sms itu dari temanku Lia yang mau ikut acara teman-teman waria di kampus (isi smsnya: “kak Dino kapan diskusi LGBT?”).

Aku bangunnya telat. Apakah acaranya sudah dimulai? Ahhh gak tau. Pasti yang hadir di sana yah cuman orang-orang itu saja atau mereka yang sudah pernah ketemuan di beberapa forum diskusi. Mereka “sering” buat acara dan menikmati acaranya sendiri.

Undang dong, tuh orang-orang yang HETERONORMATIFnya masih sangat kuat! Atau mereka yang over homophobia sekali pun diundang semua supaya mereka bisa olah raga jantung atau kebakaran sekalian. Haha..


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: