Seni dan Sastra

26 02 2010

Buah Manisan


Asam, manis, pahit semua adalah

rasa dari sekelumit kecil kehidupan

yang tentunya semua memiliki rasa


Suara itu terdengar begitu parau dan berat, lama tidak melihat ada sisi yang berbeda darinya. Sungguh duduk bersamanya seperti dalam mimpi saja. “Kamu tak pernah mendengar bahwa semua tidak akan berakhir begitu saja. Terbayang bagimana orang tuamu membanting tulang demi kamu, demi masa depan,” kataku.

Atap langit tampak berubah warna, aku mengakhiri percakapan. “Jadi, apa yang harus aku lakukan demi semua ini? Bahkan diriku sendiri tak mengerti bahwa kedua orangtuaku memperhatikanku,” keluhnya. Tiba-tiba, gadis itu meneteskan air mata.

“Waktunya telah tiba untuk kamu mendatangi kedua orangtuamu, apa yang terjadi dari apa yang kamu lakukan adalah hasil akhir, jadi jalani semua proses hidup,” kataku sambil pergi meninggalkannya sendiri.

Kegelapan telah menutupi langit-langit hingga kesepian menemaniku. Rasanya nama Ratna bukan nama yang dikehendaki. Aku meninggalkan rumah karena jenuh dengan keributan yang selalu menerpa keluargaku serta hutang keluarga yang makin banyak dan sungguh aku tidak dapat menyelamatkan adikku sendiri dalam kejadian tragis di puncak, hingga sekarang rumah sakit menjadi rumahnya karena koma yang terlalu lama.

Jauh di lubuk hati aku ingin pulang ke rumah bertemu dengan orangtuaku namun rasa bersalahku terlalu berat bagiku, apalagi lima tahun lebih aku meninggalkan rumah tanpa kabar. Hidup dari berutang banyak dan berkerja untuk membiayai kuliah serta sedikit ada bantuan dari pihak Universitas karena prestasiku. Air mataku tak terbendung lagi ketika mengenang masa lalu yang sungguh aku sesalkan. Aku kembali ke rumah kontrakanku dengan badan yang begitu lemas.

Dulu pernah aku bermimpi untuk menginjakkan kaki di Negeri Sakura sehingga aku tidak melepaskan bangku kuliah yang aku jalani sekarang ini. Tentunya itu hanya impian semata saja, pengajuan telah lama aku masukkan tetapi tidak ada jawaban hingga kini.

Malam telah datang, aku tidak dapat tidur memikirkan perkataan teman lamaku yang aku tahu sekarang dia begitu bijak memberikan nasehat setelah banyak pengalaman yang dia dapatkan dari keluarga yang hancur. Tentu aku pikir, dia hanya ingin menghiburku saja.

Pagi-pagi sekitar pukul 05.00, terdengar ketukan pintu dan ucapan salam dari luar pintu, siapakah pagi begini, orang yang mendatangi rumahku? Pikirku. Jangan-jangan si penagih utang atau pemilik kontrakan rumah? Banyak pikiranku menebak siapa orang yang mengetuk pintu dan akhirnya aku membuka pintu.  Jantungku berdetak kencang, dia datang akhirnya dan raut mukanya tidak pernah hilang dari ingatanku.

“Pagi, maaf aku datang terlalu pagi hingga membangunkan tidurmu, ada hal yang mengembirakan yang akan aku beritahukan kepadamu, ini bukan tentang masalah orangtua maupun adikmu yang sekarang dirawat dirumah sakit,” katanya. “Tentu, kegembiraan tidak menghampiriku, kenapa kamu harus mengatakan begitu? Tahukan kamu, Aldy,” jawabku.

Dia, tampak tersenyum dengan raut mukanya yang begitu cerah, setelah ucapanku. “Kita, pernah belajar bersama, aku tahu bagaimana kamu. Tak ada persoalan atau permasalahan tanpa ada jawabannya. Tentunya, kamu orang pertama yang mendapat berita ini, kerja kerasmu menghasilkan dan negeri sakura akan kamu injak, kamu berhasil menyakinkan dengan tekad dan prestasimu.”

Tiba-tiba air mataku tak terbendung lagi, aku memeluknya erat sekali bahwa aku bisa melakukannya. “ mmm,,ini luar biasa, aku tidak menyangka semua nyata, benarkah ini? Atau ini hanya mimpi semata,” ucapanku menyakinkan diri.

Pagi itu menjadi hari yang menyenangkan, aku mulai membereskan barang-barang yang ada di dalam rumah kontrakanku, dan mulai meminjam uang untuk melunasi hutangku, siang harinya. Aku mulai berpikir untuk memberanikan diri menemui kedua orang tuaku dan meminta maaf atas semua yang terjadi.

Dua minggu kemudian, aku pulang kekampung halaman untuk menemui bapak dan ibu di rumah. Sungguh aku merindukannya tetapi masih ada perasaan takut di lubuk hatiku.

“Mbak Ratna, Mbak Ratna kan??” tiba-tiba ada orang memanggilku dan tampaknya aku tidak mengenalnya, ada apa ini?? Pikirku. “Ya, Ibu. Ini Ratna, anak Pak Sumarno dan Ibu Rahayu,” kataku.

“Waduh, Mbak Ratna. Mbak telat datang, orangtua Mbak telah pindah rumah dan sekarang tinggalnya di Sukabumi,” katanya. “Ibu, kalau boleh tahu? Ibu ini siapa ya?  saya sebelumnya belum pernah melihat ibu di kampung ini..” Tanyaku.

“Masa lupa Mbak, ini bu Rohminah. Dulu yang mengasuh Mbak Ratna waktu masih bayi tetapi karena ada pekerjaan di kota yang menjanjikan akhirnya ibu pergi kekota, mungkin Mbak Ratna tidak mengenal ibu tetapi ibu mengenal Mbak Ratna.”

“Ibu, kapan bapak dan ibu saya pindah ke Sukabumi? Mengapa kedua orang tua saya harus pindah?” tanyaku lagi. Akhirnya aku diajak ibu Rohminah untuk kerumahnya, kita duduk sebentar untuk bercerita di rumah Ibu Rohminah.

“ya, sekitar dua bulanan lebih Mbak. Pak Sumarno dan Ibu Rahayu pindah karena permasalahan untang yang belum selesai sehingga rumah dijual untuk melunasi hutang dan akhirnya mereka pindah ke Sukabumi. Katanya mereka tinggal di rumah saudara tapi Ibu tidak terlalu tahu di rumah siapa? Ibu juga masih berutang budi dengan kedua orang tua Mbak Ratna sehingga ketika Ibu melihat Mbak Ratna turun dari mobil dan menuju arah rumah Pak Sumarno. Ibu jadi berpikir, apakah ini Mbak Ratna yang katanya Ibu Rahayu bersekolah di Jakarta dan sudah lima tahunan tidak pernah pulang kerumah. Yahh, ibu memberanikan diri untuk menghampiri Mbak Ratna. Eeehhh, ternyata benar Mbak Ratna pulang.” “Oh ya, Mbak Ratna kalau tidak keberatan boleh menginap di rumah ibu, kelihatan Mbak Ratna sangat lelah, besok baru dilanjutkan lagi,” ucapnya memintaku untuk beristirahat di rumahnya.

“Ibu Rohminah, tidak berkerja lagi di kota ? Suami ibu di mana? Kenapa rumah ini tampak sepi,” kataku ketika melihat suasana rumah Ibu Rohminah. Lalu Ibu Rohminah menyodorkan air teh hangat sebelum membuka cerita.

“Ceritanya panjang Mbak, Ibu sebelumnya berkerja sebagai pembantu rumah tangga di kota karena tergiur tawaran gaji yang besar, setelah selesai berkerja di rumah mbak Ratna tetapi ibu mendapat perlakuan yang tidak mengenakkan dari majikan, setiap hari mendapat hinaan dan pukulan. Lihat punggung ibu ada lima jahitan, bahkan ibu pernah mendapatkan siraman air panas. Tentunya beginilah nasip orang kecil yang tidak berpendidikan. Inginnya melaporkan ke pihak yang berwajib tetapi takut, karena majikan ibu juga seorang anggota pihak yang berwajib dan ibu di ancam akan di bunuh jika melakukan banyak tingkah. Ibu juga pernah menikah tetapi berakhir karena suami ibu berselingkuh dan menikah lagi. Ibu juga memiliki anak dari suami ibu tetapi meninggal karena sakit, ibu tidak memiliki uang untuk membeli obat untuk anak ibu. Jadi sekarang, ibu pulang lagi ke kampung halaman setelah lari dari rumah majikan.”

Cerita ibu Rohminah begitu menyentuh hatiku, ternyata bukan aku saja yang mendapat permasalahan yang aku pikir terlalu berat ternyata ada orang yang lebih mengalami permasalahan yang begitu berat.

“Ibu, terimakasih atas diperbolehkan menginap di sini. Saya, juga berterimakasih Ibu masih mengingat saya.” Kataku sambil tersenyum untuk menguatkan ibu Rohminah atas ceritanya.

“Ibu, sangat senang sekali Mbak Ratna dapat menginap di rumah ibu yang jelek ini. Ibu jadi ada teman bercerita. Ibu sangat senang tinggal di desa ini karena desa ini memberikan warna yang berbeda, memberikan semangat ibu kembali bahwa hidup adalah proses seperti buah manisan ini.” Kata Ibu Rohminah sambil menyodorkan buah manisan. Rasanya ada yang manis, asam dan sedikit pahit.

“Benar Ibu, bermacam buah manisan ini memberikan rasa yang berbeda, tidak selamanya manis atau pahit tetapi berbagai rasa tercampur baur membentuk buah manisan,” kataku.

“Mbak Ratna, istirahat dulu. Ibu akan siapkan makanan malam seadanya,” ucapnya mengakhiri percakapan.

Malam telah datang, aku tidur dekat Ibu Rohminah dan melihat raut muka ibu Rohminah yang sudah berkerut serta rambutnya yang makin memutih dan telah banyak mengalami asam manis pengalaman hidup. Aku mengela napas panjang. Malam yang makin larut membuatku tidak dapat tidur memikirkan nasip kedua orangtuaku dan adikku, aku mulai merenung dan berdoa. Akhirnya terlelap sudah di heningnya malam.

Suara ayam berkokok membangunkan aku, tercium masakan sedap dari arah belakang dan kurasa Ibu Rohminah telah menyiapkan sarapan. Segera aku bangun dan membantu ibu Rohminah. Siang harinya, aku bersiap-siap ke Sukabumi dan berpamitan dengan Ibu Rohminah. “ terimakasih ya, Ibu atas semuanya,” ucapku.

“Mbak Ratna, boleh kapan saja datang kerumah ibu. Ibu juga sangat senang. Oh ya, ibu belum cerita tentang pengalaman ibu yang menyenangkan, di perjalanan pulang ke kampung ini, ibu bertemu dengan Pak Lurah yang baik hati dan memberikan tanggungjawab ibu untuk menempati rumah ini serta ibu mendapat pekerjaan di kelurahan. Ibu bersyukur atas semuanya. Tentunya ibu tidak sendiri, besok keponakan ibu mau datang dari Yogjakarta dan menemani ibu.” Cerita Ibu Rohminah sambil tersenyum dan tidak lupa Ibu Rohminah membuatkan buah manisan untuk camilan di perjalanan. Hatiku tersenyum, mataku berkaca dan aku memeluk erat Ibu Rohminah yang sudah aku anggap sebagai Ibuku sendiri.

Dalam perjalanan di bus, aku mulai merenungkan kejadian setiap kejadian yang aku alami, banyak hal yang menyenangkan di setiap kesulitan dan tidak lupa aku mulai membuka camilan dari ibu Rohminah, tentunya buah manisan ini membuatkan tahu akan kehidupan.

Sampai di Sukabumi, aku mulai mendekati rumah saudaraku yang dulunya kita tidak pernah cocok, sering rebut mengenai hal-hal yang tidak terlalu penting untuk diributkan.

“Bapak, Ibu, Mbak Ratna pulang!!!!” teriakan dibalik belakang pintu. Aku melihat Bapak dan ibu telah di depan pintu menyambutku. Aku berlari sekuat tenaga untuk menemui mereka.

“Kamu telah kembali anakku, kami mencarimu sekian lama tak pernah terpikir dalam benak kami untuk memarahimu bahkan mengusirmu. Adikmu kecelakan itu bukan salahmu tetapi itu suatu musibah yang tidak dapat dihindari. Sekarang adikmu telah sadar dari koma yang panjang,” kata Bapak. “ Bapak, tadi siapa yang teriak-teriak Mbak Ratna pulang?” tanyaku. “ oh, lihatlah dibelakangmu.” Jawab bapak.

Mmmmmm…kamu akhirnya datang juga, ternyata si Buyung teman lamaku kenapa dia bisa berada di Sukabumi. Aku bahagia sekarang, masa lalu biarlah menjadi cerita lalu yang hanya dikenang tetapi bukan menjadi hantu di  masa depan.

Theria Hesti Kurniawati


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: