opini

26 02 2010

Budaya Populer sebagai Ekspresi Perlawanan

Oleh Andi William Inggita

Secara sederhana budaya popular atau sering disebut budaya pop adalah apapun yang terjadi di sekeliling kita setiap harinya. Apakah itu pakaian, film, musik, makanan, semuanya termasuk bagian dari kebudayaan populer.

Baik, sebelum beranjak lebih jauh, mari kita bahas definisinya satu persatu. Definisi dari populer adalah apa yang diterima, disukai, dan disetujui oleh masyarakat banyak. Sedangkan definisi budaya adalah satu pola yang merupakan kesatuan dari pengetahuan, kepercayaan, serta kebiasaan yang tergantung kepada kemampuan manusia untuk belajar dan menyebarkannya ke generasi selanjutnya. Selain itu, budaya juga dapat diartikan sebagai kebiasaan dari kepercayaan, tatanan sosial dan kebiasaan dari kelompok ras, kepercayaan atau kelompok sosial.

Awalnya budaya populer adalah budaya rakyat (folk culture) yang bersifat massal, terbuka. Sebagian juga menyebutnya dengan budaya rendah (low culture) karena muncul dari bawah (masyarakat bawah). Sebenarnya, budaya populer dulunya tak berhubungan dengan budaya tinggi atau high culture. Namun kini, keduanya telah menyatu dan melahirkan sebuah buadaya massa yang komersial. Celakanya, masyarakat banyak kepincut dengan budaya populer yang sering kali tampil secara menarik dan praktis.

Budaya populer ini seringkali dalam bentuk instan, dangkal, egosentris, dan berorientasi pasar yang membuatnya efektif dan efisien. Kekuatan budaya populerpun semakin kuat terasa karena budaya populer berhasil masuk ke segala bidang seperti ekonomi, agama dan politik serta dapat menentukan ke arah mana tatanan masyarakat akan mengalami perubahan. Salah satu contohnya yaitu lagu-lagu gereja yang terpengaruh dengan budaya populer atau tata cara peribadatan yang dimodernisasikan sehingga tata cara yang lama mulai dihilangkan karena masyarakat mulai bergerak ke bentuk budaya yang baru dan menghilangkan budaya yang baku.

Eskpresi Perlawanan

Perkembangan sosial saat ini pada dasarnya telah melampaui modernitas (yang ditandai dengan munculnya industri barang dan jasa) menuju pascamodernitas yang cenderung lebih diorganisasikan di seputar konsumsi budaya, permainan media massa, dan perkembangan teknologi informasi. Munculnya gerakan anak muda yang menginginkan adanya perubahan seringkali diekspresikan dalam sejumlah tindakan yang secara massif membentuk kebudayaan baru (subkultur). Sebut saja, muculnya musik rock, komunitas punk, komunitas tato, wanita berjilbab yang mengenakan celana jins, bahkan sejumlah aktivitas yang cenderung mengarah pada tindakan kriminalpun sering kali menggejala menjadi sebuah ekspresi perlawanan terhadap kemapanan.

Munculnya komunitas punk juga merupakan ekspresi perlawanan terhadap suatu kemapanan. Punk merupakan subkultur yang lahir di London, Inggris. Awalnya, komunitas punk selalu dikacaukan golongan skinhead. Punk juga dikenal sebagai gerakan anak muda kelas pekerja di Amerika yang mengalami masalah ekonomi dan keuangan, kemerosotan moral para tokoh politik, lalu memicu tingkat pengangguran dan kriminalitas yang tinggi. Dan kini, Punk dikenal sebagai fashion, seperti potongan rambut mohawk ala suku Indian, atau dipotong ala feathercut dan warna-warna yang terang, sepatu boots, rantai dan spike, jaket kulit, celana jeans ketat dan baju yang lusuh, anti kemapanan, anti sosial, kaum perusuh dan kriminal dari kelas rendah, dan pemabuk berbahaya.

Demikian munculnya para pecinta tato di sejumlah negara (termasuk Indonesia) adalah salah satu bentuk ekspresi perlawanan terhadap adanya kemapanan secara normatif. Padahal bagi orang Mentawai, tato merupakan roh kehidupan, salah satunya adalah untuk menunjukkan jati diri dan perbedaan status sosial atau profesi. Bagi masyarakat Mentawai, tato berfungsi sebagai simbol keseimbangan alam. Dalam masyarakat Dayak (Dayak Iban dan Dayak Kayan), tatto wujud penghormatan kepada leluhur, dan ungkapan kepada Tuhan terkait dengan kosmologi Dayak.

Tato sebagai budaya tanding (counter culture) yang dikembangkan generasi muda melawan pengawasan kelompok dominan (orang tua, kalangan elite masyarakat, norma sosial yang ketat, dll). Pengaruh media massa menampilkan artis-artis di televisi, terutama rocker-rocker Barat seperti Guns n’ Roses, Motley Crue, Red Hot Chili Pepper, dll. menjadi idola para fansnya dan menjadi sumber inspirasi untuk menunjukkan jati diri. Sehingga tidak heran jika segala sesuatu yang dilakukan sang artis menjadi daya tartik yang akan terus menerus ditur oleh para penggemarnya . Sejak tingkah laku, pakaian yang dikenal, bahkan cara menyikat gigi pun akan memberi sihir sakti yang akan diikuti.

Inilah gambaran kebudayaan populer (popular culture) yang kemudian menciptakan dialektika antara homogenisasi (penyeragaman) dan heterogenisasi (keragaman). Pertama, kebudayaan populer menawarkan keanekaragaman dan perbedaan ketika ia diinterpretasi ulang oleh masyarakat yang berbeda di lain tempat. Kedua, kebudaya populer dipandang sebagai sekumpulan genre, teks, citra yang bermacam-macam dan bervariasi yang dapat dijumpai dalam berbagai media, sehingga sukar kiranya dapat dipahami dalam kriteria homogenitas dan standardisasi baku.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: