Ribut – ribut Debat Kandidat Ketua HMPS Sosiologi

31 08 2009


“Debat seru tapi audiens terkesan ribut sehingga teman – teman lain yang ingin mendengarkan tidak bisa konsentrasi”

Komentar yang dilontarkan oleh seorang mahasiswi sosiologi angkatan 2008 dapat menggambarkan suasana debat kandidat Ketua Himpunan Mahasiswa Program Studi Sosiologi (HMPS Sos) hari Jumat (28/08) yang terkesan jauh dari kesan formil yaitu ribut. Ribut tidak melulu bersifat negatif, bisa juga bersikap atraktif dan responsif. Hal ini bukan berarti audiens tidak peduli dengan apa yang disampaikan oleh kedua kandidat melainkan sebaliknya, audiens mempertanyakan berbagai hal.

Ribut – ribut diawali dengan ngaretnya acara Debat Kandidat Ketua HMPS Sos Periode 2009/2010 yang diagendakan pada pukul 12.00 waktu indonesia bagian yogyakarta. Audiens menunggu sambil bercengkrama dengan para kandidat, berfoto atau bersandar di tembok sembari menghisap sebatang rokok. Beberapa berkata “namanya juga orang Indonesia, jam karet!”. Setelah 30 menit dari jam 12, Ketua KPMS Fredek E Lodar mempersilahkan audiens dan kedua kandidat untuk memasuki ruangan pertanda acara debat akan dimulai. Tak lama kemudian, Ibu Tyas hadir dan suasana seketika langsung ribut kembali mempertanyakan keberadaan dosen lain. Selanjutnya Ketua KPMS memberikan sambutan sebagai pembuka acara perdebatan dan sebagai moderator debat Ining Isaiyas terlihat mulai bersiap – siap. Namun sebelum kedua kandidat mengemukakan pendapat dan argumennya masing – masing, Tika mahasiswi sosiologi angkatan 2007 membacakan profil singkat kedua kandidat : Kandidat No. 1 Ernest – Moe atau NeMo dan Kandidat 2 Suster Sancti – Grace atau SanGrace yang diiringi oleh tepuk tangan riuh membahana di ruang 4007.

Berbicara mengenai kedua kandidat, Kandidat No. 1 NeMo terlihat lebih santai menjawab setiap pertanyaan dari moderator sedangkan kandidat No. 2 Wakil Ketua HMPS Grace terlihat beberapa kali grogi menjawab sehingga Suster Sancti kerapkali “menerjemahkan” pernyataan Grace. Teriakan “Ayo San-Grace” juga terdengar bila Grace mulai terbata – bata. Suasana memanas pada pertanyaan kedua yaitu “Apakah HMPS Sos adalah partner dari Prodi?”. Perbedaan pendapat antara Kandidat No. 1 yang mengatakan bahwa HMPS Sos hanyalah kaki tangan prodi sehingga tidak bisa mengembangkan dirinya karena dapat diintervensi oleh prodi sedangkan Kandidat No. 2 mengungkapkan bahwa kerja prodi menjadi lebih ringan karena HMPS Sos bisa menjadi partner kerja yang menampung segala aspirasi, gagasan atau ide – ide mahasiswa/i Sosiologi. Debat pertanyaan kedua berlangsung seru dan diselingi dengan celetukan khas audiens. Panjang umurnya, sang kepala prodi Ibu Lucinda datang dan langsung mengikuti jalannya perdebatan dengan seksama.

Seiring jalannya perdebatan yang menurut audiens bertele – tele menyebabkan beberapa audiens bosan. Bosan menyebabkan manusia melakukan hal lain seperti posisi mendengarkan namun mengantuk, mengutak – ngutik hp, memainkan rambut, merokok, berdiskusi dengan teman, dsb. Kebosanan berakhir ketika panitia KPMS membagikan snack yang cukup untuk menahan rasa lapar dan dahaga. Sesi ke 3 merupakan sesi yang ditunggu – tunggu oleh para audiens. Mereka berlomba – lomba untuk mengacungkan jari. Bertanya kepada para kandidat dan berharap pertanyaan mereka dijawab dengan sesuai harapan sehingga nantinya audiens yang notabenenya adalah mahasiswa/i sosiologi dapat memilih yang tepat. Kandidat No.1 Ernest – Moe atau Kandidat No. 2 Sr. Sancti – Grace? Pilih sesuai hati nurani pada hari Senin (31/08) karena suara rakyat suara istimewa.

[Anka & Hesti]


Actions

Information

3 responses

31 08 2009
robby

Yup, pilih no 2, San – Grace……

31 08 2009
robby

lanjutannya knapa gw pilih no 2, bahwa kerja prodi menjadi lebih ringan karena HMPS Sos bisa menjadi partner kerja yang menampung segala aspirasi, gagasan atau ide – ide mahasiswa/i Sosiologi. Debat pertanyaan kedua berlangsung seru dan diselingi dengan celetukan khas audiens.
Dari sini san-grace coba membangun relasi yg banyak dengan prodi, atau apapun itu jenisnya. terlihat juga kalo grace agak terbata-bata kalo ngomong didepan forum, yg aku baca kalo dia mulai belajar untuk menjadi seorang pemimpin. lebih baik memiliki pemimpin yang belum bisa belajar ke taraf bisa. dibanding udah bisa segalanya…
sekian tanggapan saya, kalo ada2 salah tolong dimaklumi

1 09 2009
kalice

the winner is the best

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: