Mereka Ingin Memasuki Ranah Non-Akademik

31 08 2009

HMPS bergerak dalam ranah akademik; BEM mewadahi kegiatan-kegiatan mahasiswa non-akademik. ADART terbaru, yang direvisi tahun 2004, menegaskan hal tersebut. Dengan pencantuman program-program pengembangan kegiatan seni dan olahraga yang dipaparkan kedua calon, apakah itu berarti akan ada perubahan ADART?

Vandi, mahasiswa Sosiologi 2001, melontarkan pertanyaan tersebut dalam acara Debat Ketua Himpunan Mahasiswa Program Studi Sosiologi (HMPS Sos) Jumat (28/08). “Ini untuk kegiatan mahasiswa-mahasiswi Sosiologi, kami sebagai wadah,” tutur Ernest, calon ketua HMPS Sosiologi bernomor urut 1. Tentang apakah ADART akan diubah, pasangan tersebut menjelaskan bahwa mereka akan mengumpulkan seluruh mahasiswa-mahasiswi Sosiologi terlebih dahulu untuk mempertimbangkan hal tersebut.

Suster Sanctisima, kandidat ketua HMPS Sosiologi dengan nomor urut 2, menjelaskan, kegiatan seni dan olahraga merupakan penyeimbang kegiatan akademik. “Seni bukan hanya asal jreng-jreng; seni merupakan alat untuk memotivasi diri kita. Olahraga juga media untuk lebih sportif, untuk bersemangat lagi dalam melakukan sesuatu,” tegasnya. Untuk persoalan ADART, Suster Sancti mengatakan bahwa dirinya belum mengetahui seluk-beluk ADART dan akan mempelajari serta mempertimbangkan perubahan tersebut bersama seluruh mahasiswa Sosiologi.

Program Unggulan

Kedua calon memiliki program unggulan yang berbeda. Ernest yang menggandeng Moe sebagai calon wakil ketua mengusung program Live In. Grace yang berpasangan dengan Suster Sancti sebagai calon wakil menawarkan workshop video documenter.

Pasangan nomor urut 2 mengutarakan bahwa program itu penting untuk mengasah kepekaan mahasiswa Sosiologi dalam membumikan teori-teori. Mereka yakin program itu akan berjalan lancar karena mahasiswa Sosiologi juga memiliki minat untuk melatih ketrampilan teknis seperti menggunakan kamera.

Dengan program live in, kata Ernest, kita bisa berenang dengan masyarakat, tidak hanya dengan teori. “Kekurangannya sangat jelas, yaitu dana,” lanjutnya memaparkan analisis SWOT untuk program yang ia tawarkan. Di sisi lain, ia yakin bahwa hal tersebut bukan soal. “Ini (dana – red) bisa dicari,” tandasnya.

Di antara Mahasiswa dan Dosen

Salah satu pertanyaan yang telah dirumuskan KPMS untuk kedua pasangan calon ialah mengenai pemahaman mereka tentang HMPS sebagai partner program studi. Bagi pasangan Suster-Grace, HMPS menjadi partner Prodi dalam hal memfasilitasi mahasiswa yang memiliki keinginan, gagasan, dan kreativitas yang berbeda-beda. “Bukan sebagai partner. Selama ini, saya pandang HMPS sebagai kaki tangan,” jawab Ernest. Bagi mereka, HMPS ialah milik mahasiswa. Mereka bertekad untuk membongkar sistem tersebut.

Dalam sesi tersebut, calon pasangan boleh bertanya atau menaggapi pendapat saingan mereka. “Apakah kamu ingin HMPS  menyejajarkan (diri) dengan prodi?” begitu tanggapan Suster Sancti terhadap pernyataan Ernest. “HMPS kami (Ernest-Moe) akan mencoba menyejajarkan diri dengan Prodi dan Prodi tidak berhak intervensi karena ini sebuah wadah. HMPS itu partner, bukan anak buah,” kata Moe yang menanggapi pertanyaan Suster.

Ketika pemikiran mahasiswa tidak disetujui Prodi, apa yang Suster lakukan?” tanya Ernest. Menurut Suster, bila Prodi menolak, itu mungkin hanya persoalan komunikasi. “Mungkin apa yang kusampaikan kurang jelas ke Prodi,” ungkap Suster. Suster menuturkan bahwa HMPS akan mempertajam tujuan dari program yang diusulkan dan mengajak Prodi untuk membicarakan lagi.

Dalam hal simpangan antara dosen dan mahasiswa ini, ada satu persoalan lagi yang menjadi soal debat. Hal tersebut dimunculkan Endruw, mahasiswa Sosiologi 2003. Inti soalnya, bagaimana HMPS akan menempatkan diri di silang pandangan antara dosen dan mahasiswa; misalnya, mahasiswa-mahasiswa yang menyelesaikan tugas akhir.

Ernest-Moe menyatakan bahwa HMPS akan menjadi mediator; mereka akan berjuang bila hal tersebut tidak hanya menyangkut satu orang saja. Artinya, bukan persoalan personal. Menanggapi interupsi penanya tentang derajat dosen-mahasiswa, Moe mengatakan, “Derajat antara mahasiswa dengan dosen itu sama. Dia (dosen) lebih dulu, tetapi belum tentu paling benar.”

Suster-Grace menuturkan bahwa HMPS mereka akan menjadi jembatan penghubung antara mahasiswa-dosen. Bila timbul persoalan, kata mereka, “(Kami akan) membuat merasa nyaman (sehingga) sebagai mahasiswa tidak merasa itu masalahnya sendiri.”

[Ining]


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: