Resital Music Classic “Concertos for two flute & string orchestra”

24 08 2009

102_1166

BICARA tentang musik tidak pernah ada habis-habisnya, sejak manusia ada sampai era sekarang berbagai genre musik menghibur kita dengan karakternya masing-masing. Dari era musik klasik sampai hegemoni musik-musik posmo saat ini seperti rap memiliki sejarah yang dikaitkan dengan kultural masyarakatnya dan memiliki pengikutnya dari penikmat biasa sampai pada extremer fans.

Perkembangan teknologi dan inovasi dalam genre musik baru telah memperkaya khasanah kehidupan kita dan menimbulkan hegemoni musik baru tertentu dengan musik lainnya serta dengan pelan menenggelamkan genre-genre musik tradisional yang pernah mengalami kejayaan pada zamannya. Pada dasarnya setiap jenis musik memiliki karakter dan keindahan yang khas dari setiap jenis musik lainnya. Jadi kekuatan musik tertentu yang lagi nge-trend tidaklah berarti menggantikan keindahan musik yang lainnya.

Concertos classic music yang dihadirkan oleh Prodi Sosiologi UAJY bekerjasama Tembi House of Culture dan Radio Eltira FM pada hari sabtu (22/08) yang lalu menyuguhkan sebuah genre musik instrumental yang merupakan karya-karya the best composers pada abad 17-18 di Eropa. Johann Adolph Hasse, Antonio Vivaldi dan Georg Philpp Telleman—ketiganya merupakan merupakan komposer terbaik di Eropa yang sering tampil dalam drama opera yang memang merupakan salah satu tradisi di benua Eropa pada saat itu.

Siapa yang tidak kenal dengan Vivaldi? Musisi dari Italia ini terkenal sebagai komposer sangat berpengaruh dan pemain biola pada zamannya. Dia termasuk sangat produktif dalam berkarya dan telah menciptakan hampir 500 concerto dan pencipta bentuk concerto pada zaman barok (baroque). Karya concertonya yang paling terkenal adalah The Four Seasons pada tahun 1725. Telemann dan Hasse merupakan komposer dari Jerman, mereka juga dikenal dengan produktifitas yang tinggi dan memiliki bakat yang sangat luar biasa dalam memainkan berbagai macam instrumen.

Sebagaimana tujuan dari penyelenggaraan concerto ini yaitu untuk meningkatkan budaya antar bangsa dan apresiasi terhadap musik klasik sebagai warisan dunia, melalui program Inter culture summit 2009 tersebut para pemain flute dan string orchestra menyuguhkan sebuah konser dihadapan seratusan penonton yang datang. Antonio Isselhardt (Jerman) memimpin konser dengan penuh penjiwaaan dan semangat, dan diikuti dengan solis lainnya (flute): Berny Hanteriska & Radhitya [Indonesia], Him Savy [Kamboja], sedangkan di posisi string orchestra ada Oscar artunes, Oki Yani, Yan Affandi, Yulius Citra, Dwi Ari Ramlan, Justitias Jellita, Juzan, Dibya yang merupakan mahasiswa/i Institute Seni Indonesia (ISI).

102_1183

Musik klasik tidak akan pernah mati, walaupun para penggemarnya semakin lama semakin sedikit. Ada suatu khasanah dan keindahan yang menjadi cirikhas dari musik-musik klasik ini. Bila dihayati sebenarnya musik klasik ini tanpa disadari menggiring imaji kita ke dalam dunia yang lain, seolah-olah kita tidak sedang berpijak di bumi, melainkan berada pada suatu suasana yang berbeda.

Penampilan malam itu dengan Kompilasi dua flute dan string orchestra tersebut sangat serasi dan menghasilkan simfoni yang mengaggumkan. Konser diawali dengan menampilkan karya Hasse yang ritmenya Allegro (cepat) kemudian secara pelan berayun lembut dengan kunci minor dengan beat 6 atau 12. Kontribusi alunan bassoon, bagai dentuman-dentuman tak terduga dan khas. Sedangkan titik klimaks tentu mendapat tepuk tangan yang riuh, yaitu karya Vivaldi dengan gaya khasnya yaitu tempo Allegro Molto (Sangat cepat), kemudian turun pelan-pelan ke dalam tempo Largo (lebih lambat dari adagio) dan tiba-tiba bergelora kembali dengan tempo Allegro. Konser yang diakhiri dengan karya Telleman dengan alunan lambat, cepat, lambat dan presto (sangat cepat), membangkitkan lamunan para penonton yang tidak menyadari waktu sudah larut dan konser harus diakhiri.

Konser yang diselanggarakan di audio visual kampus Thomas Aquinas UAJY ini dihadiri beberapa pecinta musik klasik; dari dosen-dosen sosiologi, muda-mudi (mahasiswa, anak-anak smu) dan beberapa orang tua penggemar musik klasik. Jangan heran, kesempatan tidak akan dibiarkan berlalu begitu saja, selesai konser para penggemar berfoto-ria bersama Antonio Isselhardt dan wanita muda dari kamboja Him Savy. Acara ini sukses dan tentu saja mahasiswa/I sosiologi menantikan konser-konser berikutnya dari prodi sosiologi.

102_1161

Kurang adil rasanya kalau applaus hanya ditujukkan bagi pemain string orchestra dan flutes dipanggung hiburan malam itu, barangkali tidak berlebihan juga kita tujukkan bagi penyelenggara termasuk Prodi Sosiologi, Tembi House of Culture dan juga Radio Eltira. Program ini memang perlu di dukung, bukan hanya karena menyuguhkan sebuah hiburan yang mengingatkan kita pada romantisme alunan instrumen, tetapi lebih dari itu telah membangkitkan hasrat kita bahwa begitu pentingnya mengapresiasi suatu karya dari hasil suatu budaya yang original dan melestarikannya. Apalagi kita juga banyak musik-musik tradisional yang original yang juga tidak kalah dengan keindahannya.

[Wilhem Wau]


Actions

Information

4 responses

25 08 2009
apalah nama

Mau nanya serius.

1) seperti apa sih musik-musik posmo itu?
2) apa alasannya mengkategorikan rap sebagai musik posmo?

25 08 2009
kalice

semoga saling mengisi antar sesama genre musik

17 10 2009
biola

root of culture is education..

28 03 2010
pipis

@apalah nama.Posmo, POst Modern…berarti kekinian, Rap Music dikategorikan posmo karena, musik tersebut lahir pada era modern…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: