:pustaka: Bilangan Fu

1 08 2009

Judul Buku    : Bilangan Fu

Penulis         : Ayu Utami

Penerbit       : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)

Tebal           : 536 hlm

fu

Bilangan Fu, Sederhana Nan Penuh Perdebatan

EMPAT tahun pencarian dan 9 bulan mengandung, Ayu Utami melahirkan adik baru bagi Saman dan Larung yang diberi nama Bilangan Fu. Novel menceritakan Fu, alat musik tiup orang Asmat menjadi sebuah bilangan. 1 : fu = 1 x fu = 1; dan fu tidak sama dengan 1, formulasi rumus ditemukan oleh Sandi Yudha, pemanjat tebing yang membagi dan mengalikan nyawanya dengan duabelas anggota, dimana, pada saat yang sama, nyawanya tetap satu.

Adalah Sewugunung, lokasi yang menjelma menjadi kisah. Kisah sajenan hingga freak show Klan Saduki, pemuda berbaju Diponegoro dicampur dengan Samurai X hingga Nyi Rara Kidul, hantu hingga postmodern yang terangkum dalam tiga M ; Modernisme, Monoteisme dan Militerisme. Tiga serangkai perusak bumi (hlm 477).

Sandi Yudha, seorang pemanjat tebing dari kota menemukan formulasi rumus Fu. Dalam pencariannya, dia bertemu dengan Parang Jati, mahasiswa geologi Institut Teknologi Bandung dari Sewugunung yang berjari duabelas (kelak disebut sebagai bilangan hu). Keduanya mempunyai sifat yang berseberangan, Yudha selalu bersikap skeptis dan sinis, sedangkan sifat bijaksana milik Parang Jati. Ayu Utami berseloroh bahwa kedua tokoh tersebut adalah dua sisi dirinya.

Filsafat modern “cogito ergo sum” dan “Tuhan sudah Mati” membebaskan manusia dari ketakutan terhadap alam, institusi kerajaan, gereja dan Tuhan itu sendiri. Ditandai dengan peralihan bentuk komunitas (gemeinschatf) ke masyarakat (gesselschaft) muncul industrialisasi dan kapitalisme. Persoalannya, modernisme memiliki sifat-sifat yang berjodoh dengan monoteisme dan militerisme (hlm 476) dimana ketiganya meletakkan kebenaran ilmu diatas segala-galanya dan kekerasan adalah alat untuk “meluruskan” jalan yang dianggap salah. Kebenaran bersifat absolut, mutlak dan SATU. Akibatnya, sulit untuk menerima perbedaan. Solusinya? Ayu Utami dengan mantap menulis “bentuklah manusia postmodern”. Semua tersisipkan dalam lika-liku cerita kekerasan membawa nama agama, haus kekuasaan dan kepercayaan berbasis SATU.

Narasi dan cerita sederhana tapi penuh perdebatan itulah Bilangan Fu. Ayu Utami sedikit meninggalkan akrobat kata-kata, cerita yang linear dan menekankan pada cerita bukan lagi pada bahasa. Berbeda dengan Saman dan Larung yang seperti mozaik. Penyebabnya adalah settingnya, setting orde baru dan setting setelah euforia reformasi. Meski dari segi plotnya sederhana, Bilangan Fu mengandung lebih banyak perdebatan dibandingkan Saman dengan kata kunci baru yaitu Spiritualisme Kritis. Paduan filosofi hu dan fu.

Ji ro lu pat mo nem tu wu nga luh las sin hu

Bilangan hu bukan bilangan matematis, melainkan metaforis, bukan bilangan rasional, melainkan spiritual (hlm 303). Kekosongan. Ketiadaan. Kesunyian. Kesunyatan.

1 : fu = 1 x fu = 1; dan fu tidak sama dengan 1

Bilangan itu bernama fu…

Oleh Anka Yolanda Kansil


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: