:opini: Memahami Sejenak (Saudari kita) Kaum Lesbian

1 08 2009

Sejenak Memahami, (saudari kita) Kaum Lesbian*

Berbicara tentang persoalan jender, terkadang ada satu sisi kehidupan perempuan yang terkadang terlewatkan begitu saja, yang mana yang dimaksud “sisi” di sini adalah tentang hidup kaum perempuan, dalam perasaan dan sikapnya sebagai seorang lesbian. Tak banyak orang yang mengerti tentang lesbian, tak banyak pula yang ingin meperbincangkannya, bahkan mungkin dari si perempuan lesbian itu sendiri. Pendapat umum yang banyak diketahui tentang lesbian adalah sebuah orientasi perasaan dari kaum perempuan yang mana memiliki ketertarikan secara emosional dan seksual kepada kaum perempuan.

Ketertarikan saya untuk menyelami realita hidup kaum lesbian, berawal ketika saya menggarap sebuah film pendek yang mengangkat romantika hidup kaum lesbian, produksi STEVIA COLOUR FILMS, yang juga bekerja sama dengan LSM Solidaritas Perempuan SP KINASIH yang melibatkan sebuah komunitas kecil kaum Lesbian. Dari sebuah hubungan kerja itu, terciptalah sebuah kedekatan emosional yang pada akhirnya membawa saya, untuk mencoba mengenal dan memahami lebih dekat kehidupan lesbian itu sendiri. Boleh pula usaha saya tersebut, disebut sebagai sebuah penelitian sederhana yang tersamar.

Sebelumnya istilah gay dan lesbian begitu aneh dan menakutkan bagi saya yang menjalani hidup dalam masyarakat kita yang menganut hetero normativity , serta kebanyakan memiliki sikap homophobia . Namun setelah saya mencoba menyelami lebih jauh serta melakukan riset sederhana maupun studi pustaka, barulah saya mulai mengerti arti dari sebuah kebebasan seorang manusia (perempuan) untuk memilih salah satu dari berbagai pilihan hidup yang ditawarkan, meskipun harus berada pada situasi dan kondisi yang dianggap “menyimpang”, adapula yang menyebutnya dengan istilah Belok, dan juga juga Sukses (suka sesama jenis ).
Dalam perspektif feminis dikatakan bahwa perempuan adalah the second sex, ia adalah seks yang kedua (bukan yang utama) dari laki-laki dalam masyarakat patriarkhis. Dalam “seks” yang kedua ini masih banyak perdebatan yang belum terjawab. Apalagi lesbian, yang dipandang sebagai the third sex, ia adalah seks ketiga karena orientasi seksualnya yang berbeda, maka ia menjadi teralienasi bahkan cenderung teraniaya lebih parah daripada perempuan yang heteroseks atau orientasi seksual lawan jenis yang dianggap normal. Dalam perspektif yang sama pula, melihat bahwa lesbianisme sebagai suatu bentuk pilihan politis dalam menentang segala bentuk dominasi patriarki.

Sebagaimana telah nyata, bentuk pernikahan atau keluarga heteroseksual merupakan institusi yang paling mendasar dan utama dalam pelestarian dan peletakkan dasar sistem patriarki. Dengan kata lain, melalui institusi keluarga hetero inilah, sistem patriarki dibentuk dan terus dipelihara kelangsungannya dalam sejarah umat manusia.
Secara umum memang seorang perempuan lesbian berpenampilan tidak berbeda dengan perempuan lainnya. Namun banyak juga lesbian yang memiliki penampilan maskulin, tomboy, yang sering disebut sebagai butch/butchie . Pada kelompok buchie ini, ada kemungkinan besar penampilan maskulinnya, dengan celana panjang dan baju sportif pria. Sehingga dalam menjalani kehidupan lesbiannya, si perempuan “butch” ini melakukan transgender menjadi seperti layaknya seorang laki-laki. Sebaliknya, perempuan yang menjadi pasangannya disebut sebagai “femme”, dengan penampilan yang lebih feminim dan terlihat seperti kebanyakan perempuan pada umumnya, dengan peran gendernya pun sebagai seorang perempuan. Atau adapula sebutan lainnya yakni, “sentul (maskulin) dan Kantil (feminim).”
Dalam tatanan masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggi norma heteroseksual, memiliki sikap keberanian utuk menunjukkan identitas diri sebagai seorang lesbian, merupakan sebuah keberanian yang sangat luar biasa, sekaligus dapat menjadi ujung tombak kaum lesbian untuk membebaskan diri dari sekat-sekat ketidakadilan Hak Asasi Manusia, yang seharusnya bisa mereka dapatkan. Namun sayangnya, masih banyak kaum lesbian yang menutup diri dan lebih memilih menjalani ambiguitas kehidupan ketimbang membuka diri secara terang -terangan, dan berani menunjukkan identitas diri mereka. Banyak hal yang mereka takutkan, yang semakin membuat mereka in the kloset (memendam orientasi seksualnya untuk dirinya sendiri dan menutupinya di tengah masyarakat), tidak kemudian menjadi coming out , karena tekanan sosial yang akan dihadapinya.

Seiring dengan tumbuh suburnya paradigma umum dalam masyarakat yang menganggap bahwa lesbian adalah seorang perempuan yang dianggap memiliki kondisi psikologis yang menyimpang, bahkan dianggap sebagai sebuah penyakit sosial yang disebabkan oleh lingkungan. Bahkan sebuah penyakit “menjijikan”, dan sebuah “dosa”.
Jika lesbian merupakan sebuah penyimpangn psikologis atau penyakit, faktanya di Indonesia, sudah sejak tahun 1983, menurut Pedoman Penggolongan dan Diagnosa Gangguan Jiwa (PPDGJ) II, hanya homoseksual ( Gay/Lesbi ) ego-distonik (yang penyandangnya terganggu) yang dianggap gangguan jiwa . Bahkan Amerika sudah terlebih dahulu yaitu di tahun 1973 ketika Asosiasi Psikiatris Amerika mengeluarkan homoseksualitas dari deviansi seksual. Badan World Health Organization (WHO) juga sudah tidak melihat homoseksualitas sebagai sebuah kelainan. Sehingga menjadi jelas, homoseksual, termasuk lesbian, bukan persoalan psikologis apalagi melihatnya sebagai patologi sosial.
Kebanyakan orang, menilai kaum homoseksual (lesbian), dari segala sesuatu hal yang mengarah kepada hubungan seksual. Untuk itulah, kebanyakan orang menilai, ini sebagai suatu penyimpangan seksual, “menyimpang” karena dianggap tidak lazim dalam norma hetero normativity. Homoseksual, yang dalam tulisan ini, adalah lesbian, hanya dipandang dari sudut hubungan seksual (sexual intercourse)birahi, kenikmatan seksual dsb. Sementara, kehidupan lesbian, tak semata-mata dipenuhi dengan hal-hal semacam itu. Masih banyak orang yang tidak mengerti, dan mungkin tidak mau mengerti, bahwa hubungan sesama jenis ini pun juga melibatkan segenap emosi dan perasaan mereka, layaknya hubungan percintaan kaum hetero seksual. Ada perasaan yang sangat kuat dan sangat tulus yang memenuhi hati nurani mereka, untuk mencintai dan mengasihi pasangan mereka. Meskipun, mereka harus menjalani romantika percintaan itu dalam hubungan yang lain daripada yang lain. Dan, mereka tak pernah mengerti mengapa, mengapa perasaan itu hadir dalam dirinya. Dalam perkembangannya, saat mereka menyadari akan kehadiran “perasaan” tersebut, ada yang berani mensyukurinya sebagai sebuah anugerah, adapula yang berusaha mencoba menolaknya dengan keras hati. Karena sekali lagi, ini adalah sebuah pilihan hidup.
Ada banyak argumen yang beredar, yang merupakan faktor-faktor penyebab kehadiran homoseksual. Mulai dari perbedaan kromosom saat terbentuk dalam kandungan, pengaruh pembentukan karakter dari lingkungan (keluarga, lingkungan dan pergaulan), sampai pada persoalan traumatik seorang perempuan terhadap pengalaman-pengalaman masa lalu, yang kemudian mengubah peran gendernya hingga orientasi seksualnya. Keputusan menjadi lesbian adalah keputusan perempuan untuk mengambil alih kontrol terhadap tubuh dan seksualitasnya, serta hidupnya sendiri dari tangan laki-laki yang selama ini mengklaimnya sebagai miliknya dan ada di bawah kontrolnya. Dengan menjadi lesbian perempuan membiarkan tubuhnya sendiri menentukan pilihan kepada siapa segenap gairah dan hasrat cintanya ia berikan. Bukan karena telah ditetapkan oleh masyarakat dan agama yang telah membuat aturan agar tubuh perempuan hanya untuk laki-laki.
Lesbian sendiri bergerak dan ada dalam lingkup komunitas. Komunitas lesbian bukan komunitas yang dibentuk karena merasa diancam atau memenangkan nila-nilai lesbianisme, akan tetapi lebih kepada komunitas yang ingin memahami diri sendiri, sebagai sumber pengetahuan agar dapat “survive” menjadi seorang lesbian. Jadi, komunitas lesbian adalah tempat referensi dimana terus diproduksi makna-makna baru, makna lesbian, makna yang dibentuk dan disepakati bersama oleh komunitas tersebut .
Kehadiran berbagai macam LSM Perempuan, serta berbagai macam pergerakan perjuangan pembebasan perempuan yang mengaku “memperjuangkan hak kaum perempuan” pun seringkali melewatkan persoalan ini, dengan berbagai alasan dan pertimbangan tentunya. Kebanyakan pergerakan / LSM perempuan yang ada, hanya menyoroti permasalahan kekerasan, ketidak adilan kepada perempuan dalam rumah tangga “patriarki”, maupun kesehatan reproduksi perempuan. Seharusnya, perjuangan hak-hak lesbian juga diletakkan dalam perjuangan pembebasan kaum perempuan. Perjuangan kaum lesbian akan kehilangan landasan ideologisnya jika diletakkan di luar pergerakan pembebasan kaum perempuan. Dan perjuangan pembebasan perempuan yang mengabaikan perjuangan lesbian adalah palsu. Bagaimana mungkin mereka dapat menyebut diri sebagai pejuang hak asasi perempuan sementara mereka sama sekali tidak mencintai perempuan yang diperjuangkannya itu?.
Siapapun yang mengaku dirinya feminis, atau perempuan yang memperjuangkan hak-hak perempuan untuk alasan apapun dan untuk itu menentang kejahatan sistem patriarki yang menjadi akar masalah penindasan kaum perempuan, secara politis adalah seorang lesbian. Sebab apakah yang mendorong seorang feminis mempunyai concern dan komitmen yang kuat bagi perjuangan hak-hak perempuan selain cinta yang tulus dan dalam kepada perempuan. Sehingga, seorang perempuan ketika berada dalam situasi dan kondisi dimana dia juga mencintai perempuan, dia adalah lesbian. Inilah mengapa, di atas saya mengatakan bahwa lesbian tak semata-mata urusan sexual intercourse semata, namun yang menjadi hal utamanya, yang menggerakkan kehadiran kaum lesbian adalah perasaan cinta kasih itu sendiri. Dan cinta kasih itu sendiri, tidak berjenis kelamin. Maka dari itu cinta kasih adalah milik setiap makhluk, dan tidak dibenarkan jika kemudian cinta kasih di monopoli oleh pasangan hetero seksual (laki-laki dan perempuan). Dan tak ada perbedaan yang berarti dalam kehidupan cinta kasih antara pasangan sejenis dengan pasangan hetero. Dan semestinya saat sepasang manusia berada dalam situasi dan kondisi dimana mereka saling mengasihi, saling mencintai dengan tulus satu sama lain (dalam hal ini pasangan homoseksual;lesbian) hal ini bukanlah menjadi sesuatu hal yang dianggap menjijikkan, untuk dimusuhi, untuk dibenci, untuk dipermalukan, untuk tidak ditolak oleh norma masyarakat maupun ajaran-ajaran kaku agama.). Apalagi jika hal ini dikatakan sebagai sebuah dosa, dianggap melanggar kodrat Tuhan, bahwa manusia harus hidup berpasangan (laki dan perempuan) untuk menjalankan fungsi prokreasi (menghasilkan keturunan). Jika memang demikian, saya rasa Tuhan begitu prematur dalam soal keadilan dan kebijaksanaan. Sementara, dipercaya bahwa cinta adalah sebuah karunia anugerah yang datang dari sang Ilahi, Tuhan sendiri. Kemanapun karunia cinta itu akan memilih tempatnya untuk hidup dan tumbuh subur, adalah menjadi hak manusia seutuhnya. Bagaimana mungkin Tuhan membenci umatnya yang saling mencintai dan mengasihi, karena sebuah cinta yang telah dianugrahkan oleh Tuhan sendiri.
Menjadi seorang lesbian adalah tidak dan bukan dosa. Bukan pula persoalan bisa disembuhkan atau tidak, karena lesbian bukanlah suatu penyakit. Melainkan suatu anugerah yang sungguh luar biasa besar dan indahnya. Apakah bukan suatu anugerah yang luar biasa indahnya menjadi orang-orang yang mencintai dan memperjuangkan kaum yang yang marjinal dan yang mengalami penindasan dalam masyarakat manapun di dunia ini selama berabad-abad? Apakah bukan suatu anugrah yang luar biasa indahnya jika kita membiarkan perempuan dengan tubuhnya sendiri menentukan pilihannya kepada siapa hasarat dan cintanya ia tujukan? Apakah bukan sebuah anugerah yang luar biasa indahnya jika perempuan bisa hidup dengan tubuh dan jiwanya? Bukankah hal itu yang dikehendaki oleh Tuhan semua orang beragama? Yaitu membiarkan manusia menjadi manusia yang merdeka dan dapat bersyukur selalu karena kehidupan yang berkelimpahan oleh cinta kasih Tuhan dan sesama .
Jender dalam dialog mengajarkan kita untuk menumbuhkan sikap saling menghormati dan menghargai kepada setiap pribadi yang telah memiliki peran jendernya masing-masing. Tidak kemudian malah terjadi saling tindas antara jender yang satu dengan jender yang lain, menganggap salah satu jender adalah lemah dan tak berdaya. Jika terjadi kesalahpaham dan penafsiran, perlu dilakukan sebuah dialog bersama, bukan kemudian malah saling mengecam satu sama lain. Biarkanlah perempuan dan siapapun berhak atas hidup dan tubuhnya sendiri. Hidup tentu akan menjadi lebih indah dan lebih hidup jika kita saling menghormati dan membiarkan siapapun memilih pilihan dan cara hidup sesuai dengan keyakinan dan kerinduannya masing-masing.

* Tulisan ini saya persembahkan untuk sahabat-sahabat saya terkasih, yang berani mengambil pilihan hidup sebagai kaum lesbian. Juga untuk yang tercinta, seorang sahabat perempuan yang sangat saya kagumi & memberi arti tersendiri untuk saya.

Oleh :Stevanus Rio Irawan

Acuan :
Jurnal Perempuan. “Seksualitas Lesbian”. No 58 Cetakan Pertama, Jakarta; Maret 2008


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: