:opini: Feminis Marxis Merubah Ideologi Bangsa

1 08 2009

Feminisme Marxis Merubah Ideologi Bangsa

Genderang perang sudah di tabuh, bendera perangpun sudah di kibarkan
ini bukan perang antara kerajaan Majapahit dengan Belanda, bukan juga perang antara Amerika dengan Irak. Ini adalah perang kaum wanita lewat gerakan perempuan yang menuntut emansipasi dengan pria. Sehingga secara tidak langsung melawan budaya patriarki

Gerakan perempuan yang menuntut emansipasi atau kesamaan dan keadilan hak dengan pria disebut juga feminisme. Kebanyakan para pria di indonesia tidak menyadari adanya feminisme tersebut. Contoh kecil saja acara televisi ”suami-suami takut istri”. Mungkin bagi banyak orang, acara tersebut hanya acara hiburan semata yang mengundang gelak tawa bagi si konsumen. Tapi jika kita perhatikan, acara tersebut jelas-jelas melecehkan kaum pria.

Pertanyaan yang otomatis terlontar adalah kenapa acara tersebut mendapat respon baik dari masyarakat indonesia? Apakah kaum pria tidak menyadari adanya pelecehan tersebut? Atau kaum pria sudah menerima perubahan struktur yang akan menjadi seperti di acara suami-suami takut istri tersebut? Apapun jawaban dari pertanyaan diatas sebaiknya kita mulai memahami feminisme tersebut lebih dalam lagi.
Istilah feminisme sering menimbulkan prasangka, stigma, stereotip pada dasarnya lebih disebabkan oleh kurangnya pemahaman mengenai arti feminisme yang sesungguhnya. Pandangan bahwa feminis datang dari barat adalah salah, tetapi istilah feminis dan konseptualisasi mungkin datang dari Barat bisa dibenarkan. Sejarah feminis telah dimulai pada abad 18 oleh RA Kartini melalui hak yang sama atas pendidikan bagi anak-anak perempuan. Ini sejalan dengan Barat di masa pencerahan, di Barat oleh Lady Mary Wortley Montagu dan Marquis den Condorcet yang berjuang untuk pendidikan perempuan. Perjuangan feminis sering disebut dengan istilah gelombang / wave dan menimbulkan kontroversi/perdebatan, mulai dari feminis gelombang pertama (first wave feminism) dari abad 18 sampai ke pra 1960 dimana ada masa-masa pemasungan terhadap kebebasan perempuan. Sejarah dunia menunjukkan bahwa secara umum kaum perempuan (feminin) merasa dirugikan dalam semua bidang dan dinomor duakan oleh kaum laki-laki (maskulin) khususnya dalam masyarakat yang patriarki sifatnya. Dalam bidang-bidang sosial, pekerjaan, pendidikan, dan lebih-lebih politik hak-hak kaum ini biasanya memang lebih inferior ketimbang apa yang dapat dinikmati oleh laki-laki.
Kemudian pada tahun 1960 lahirlah Feminisme Gelombang Kedua. Dengan puncak diikutsertakannya perempuan dalam hak suara parlemen. Pada tahun ini merupakan awal bagi perempuan mendapatkan hak pilih dan selanjutnya ikut mendiami ranah politik kenegaraan dan bahkan gelombang ketiga atau Post Feminism. Istilah feminis kemudian berkembang secara negatif ketika media lebih menonjolkan perilaku sekelompok perempuan yang menolak penindasan secara vulgar. Sebenarnya, setiap orang menyadari adanya ketidakadilan atau diskriminasi yang dialami oleh perempuan karena jenis kelaminnya dan mau melakukan sesuatu untuk mengakhiri ketidakadilan/diskriminasi tersebut. Tapi dalam realitas tidak pernah ada tindakan yang riil oleh kaum pria untuk menyetarakan hak perempuan. Perempuan tetap di jadikan objek atau barang. Kita bisa lihat di daerah Indonesia Timur, ada sebuah kebudayaan yang namanya belis, yaitu untuk melamar wanita agar dapat di nikahi perlu membayar sejumlah uang, atau beberapa sapi sesuai keinginan orang tua si wanita. Nah hal itu menunjukan bahwa wanita menjadi sebuah barang yang bisa di beli kapan saja (bagi orang yang berkecukupan). Kebudayaan yang cukup ekstrem menurut saya.
Sampai saat ini dikenal beberapa aliran besar dalam feminisme, antara lain, feminisme marxis, liberal, radikal, multikulturalisme dan sosialis. Tapi dalam tulisan ini saya lebih mefokuskan pada feminisme marxis, karena feminisme aliran ini banyak dianut masyarakat Indonesia, dan yang paling riil jatah tempat untuk artikel ini tidak cukup untuk menjelaskan semua aliran feminisme.
Feminisme marxis banyak dipengaruhi oleh Marx dan Engels dan pemikir abad 19. Mereka juga cenderung mengidentifikasi kelasisme (classism) dan bukan seksisme sebagai penyebab utama operasi terhadap perempuan. Aliran ini memandang masalah perempuan dalam kerangka kritik kapitalisme. Asumsinya sumber penindasan perempuan berasal dari eksploitasi kelas dan cara produksi. Teori Friedrich Engels dikembangkan menjadi landasan aliran ini status perempuan jatuh karena adanya konsep kekayaaan pribadi (private property). Kegiatan produksi yang semula bertujuan untuk memenuhi kebutuhan sendri berubah menjadi keperluan pertukaran (exchange). Laki-laki mengontrol produksi untuk exchange dan sebagai konsekuensinya mereka mendominasi hubungan sosial. Sedangkan perempuan direduksi menjadi bagian dari property.
Sistem produksi yang berorientasi pada keuntungan mengakibatkan terbentuknya kelas dalam masyarakat borjuis dan proletar. Jika kapitalisme tumbang maka struktur masyarakat dapat diperbaiki dan penindasan terhadap perempuan dihapus.
Cikal bakal kapitalisme adalah adanya struktur patriarki dalam keluarga yang menempatkan pria sebagai penguasa / kepala keluarga serta adanya konsep kepemilikan pribadi dalam keluarga, termasuk kepemilikan harta dan kepemilikan istri. Disini dinilai pihak perempuan / istri tertindas karena tidak punya kekuatan ekonomi.
Di Indonesia pelopor pertama feminisme adalah Ibu Kartini, banyak pendapat berbeda yang mangatakan bahwa gerakan yang di lakukan Ibu Kartini adalah feminisme liberal, dan ada juga yang menyebut feminisme marxis. Tapi menurut saya gerakan Ibu kartini lebih condong ke feminisme marxis.
Kartini yang terlahir sebagai seorang puteri bupati Jepara adalah sosok perempuan yang melampaui zamannya karena kecerdasan, keluasan pikiran, dan kepedulian sosialnya. Ia hidup dalam dua budaya: Jawa dan Barat (Belanda). Kartini kecil beruntung dapat mengenyam pendidikan sekolah rendah Belanda sebagai modal intelektualnya.
Pergaulan Kartini yang luas dengan para pejabat dan intelektual kolonial Belanda dan didukung minat baca yang kuat membuat pemikirannya terpengaruh paham kemajuan (modernisasi) Barat. Bahkan Kartini mengidolakannya, meski dengan sikap cermat.
Kartini amat tajam melihat fenomena sosial zamannya. Ia tidak puas melihat kondisi kaum perempuan yang terbelakang dalam hal pendidikan dan sosial-ekonomi, sedangkan kaum pria pada posisi diuntungkan. Kartini juga ’berontak’ terhadap adat ningrat bangsawan Jawa saat itu yang memingit anak gadis, termasuk dirinya, serta mengkritik kebiasaan pria bangsawan untuk berpoligami yang kebetulan dibolehkan oleh agama Islam. Pada dasarnya Kartini menginginkan perlunya definisi ulang atas norma-norma gender yang berlaku saat itu.
Nah, pada jaman dahulu golongan bangsawan merupakan kaum kapitalisme, dimana golongan bangsawan tersebut malakukan eksploitasi kelas dan menganggap wanita hanya menjadi barang pemuas kaum bangsawan atau kapitalisme. Jalan pembebasan yang ditempuh Kartini adalah lewat jalan pendidikan.
Namun titik tolak kemerdekaan perempuan, menurut Kartini, bukanlah melihat perempuan sebagai sosok mandiri yang terpisah dari lingkungannya, melainkan sebagai pribadi yang terkait dengan kemajuan masyarakatnya. Kartini menulis, ’’Kecerdasan pikiran penduduk bumiputera tidak akan maju pesat bila perempuan ketinggalan dalam usaha itu, yaitu perempuan jadi pembawa peradaban ”.
Sedangkan feminisme abad 21 ini pada dasarnya sama seperti yang dahulu adalah gerakan perjuangan persamaan hak perempuan agar setara dengan pria. Karena menilai ada ketidakadilan bagi kaum perempuan. Sumber ketidakadilan itu dinilai karena kuatnya dominasi laki-laki (patriarki).
Contoh dari ketidakadilan jender adalah adanya konsep pembagian peran yang mengatakan peran perempuan tempatnya di rumah (domestik) sementara peran pria di luar rumah (publik). Menurut kaum feminis, pembagian peran seperti itu sekedar konstruksi sosial yang tidak berkaitan sedikitpun dengan fisik (jenis kelamin). Kaum feminis menilai kaum perempuan menjadi tertindas dengan peran itu. Peran itu selama ini terpaksa dilakukan perempuan berhubung kuatnya dominasi laki-laki.
Cita-cita feminisme adalah kesetaraan (50:50) antara peran perempuan dengan pria di rumah, kantor, pemerintahan dan sebagainya. Pemikiran itulah yang mengilhami perlunya adanya kuota 30 persen bagi perempuan sebagai anggota legislatif kita yang muncul di era reformasi saat ini.
Jadi dengan cita-cita seperti itu, akan menumbangkan idelogi atau budaya patriarki di Indonesia, sehingga kaum pria harus siap menerima perubahan tersebut dan harus siap juga bersaing dengan kaum wanita dalam segala hal. Waspadalah… waspadalah.

Oleh R. Bg Arya Bayu Ambarawa

Acuan :
DR. Mansour Fakih. Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta : Pustaka Relajar, 1996.
Rosemarie Putnam Tong. Feminist Thought: Pengantar Paling Komprehensif kepada Arus Utama Pemikiran Feminis. Yogyakarta: Jalasutra, 1998.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: