opini: Drama Pemilu

1 08 2009

Indonesia tahun ini mengadakan pesta demokrasi untuk memilih wakil rakyat dan pemimpin bangsa yang baru. Memilih wakil rakyat untuk 5 tahun kedepan atau pemilu legislatif sudah di laksanakan pada bulan april yang lalu. Banyak perubahan yang terjadi pada pemilu kali ini. Para caleg yang ikut bertarung pada pemilu kali ini tidak akan dilihat dari nomor urut yang di berikan oleh parpol. Seperti yang kita ingat ada istilah nomor jadi pada pemilu 2004. Namun pada pemilu kali ini tidak ada yang namanya nomor jadi. Jadi para caleg yang bertarung kali ini mulai mencari simpati dari masyarakat untuk mendapatkan suara terbanyak,karena yang mendapat suara terbanyaklah yang akan menjadi wakil rakyat selama 5 tahun kedepan. Karena peraturan yang ketat tersebut maka para caleg yang bertarung saling bersaing bukan hanya antar partai,tapi juga yang berasal dari satu partai.

Ada yang bertarung secara positif,membuktikan kualitas diri mereka di depan masyarakat. Namun ada juga yang menggunakan cara yang tidak sehat dengan menggunakan jalan popularitas,agama dan moneypolitik. Cara-cara seperti ini yang membuat mental bangsa Indonesia tidak bagus. Para wakil rakyat di pilih bukan karena kualitas dan kapasitas mereka,tapi karena factor lain yang sebenarnya tidak penting bahkan akan membuat ketikdakseimbangan didalam bangsa ini,karena kebijakan yang di buat tidak ada toleransi terhadap kelompok lain. Selain itu mendapatkan sesuatu yang seharus tidak dengan uang tapi malah menggunakan uang. Sehingga waktu berada di posisi tersebut harus korupsi untuk mengembalikan modal,bukan untuk mengabdi pada rakyat.

Belum lagi dengan keputusan KPU yang mempermudah jalan bagi para caleg wanita untuk menjadi wakil rakyat. Sepengetahuan saya kebijakan KPU yaitu setiap kelebihan suara dari para caleg akan langsung diberikan kepada para caleg wanita. Tujuan yang di maksud adalah supaya ketika caleg wanita ini sampai di gedung wakil rakyat,bisa menyuarakan hak-hak kaum wanita. Tapi disisi lain kebijakan KPU tersebut seperti mengkebiri proses demokrasi yang sedang coba dibangun. Karena para caleg lainnya berusaha untuk menarik simpati rakyat supaya terpilih sebagai wakil rakyat,tapi caleg wanita malah dimudahkan. Kalau dilihat kebijakan ini seperti memaksakan keberdaan wanita sebagai wakil rakyat. Mungkin sudah banyak hak perempun yang harus diperjuangkan sehingga keberadaan caleg wanita dipermudah untuk sampai ke gedung wakil rakyat. Kalau tidak seperti itu kenapa jalan caleg wanita ingin dipermudah oleh KPU? Akan lebih baik jika caleg wanita dibiarkan bersaing dengan para caleg lainnya. Dari sini tentunya akan dilihat kualitas dari para caleg wanita tersebut sehingga bisa menjadi wakil rakyat nantinya. Janganlah memaksakan keberadaan wanita menjadi wakil rakyat.

Ada atau tidaknya para wanita dalam pemilu merupaka pilihan mereka sendiri. Mereka sendiri sudah tau kemampuan mereka sehingga berani untuk maju sebagai caleg. Apalagi untuk mempermudah sebagai wakil rakyat,saya rasa harus ada seleksi yang ketat supaya kapasitas dan kualitas caleg wanita bisa terlihat. Dengan begitu mereka sendiri bisa aktif untuk menyuarakan hak-hak wanita di gedung wakil rakyat. Kalau dipermudah seperti itu takutnya mereka tidak siap sebagai wakil rakyat nantinya. Dan yang membuat saya agak tidak setuju adalah keputusan tersebuat seperti menegaskan bahwa wanita Indonesia tidak bisa bersaing sehingga harus di bantu. Untungnya kepetusan tersebut tidak memunculkan konfliik pada akhir penghitungan suara. Kalau seandainya keputusan tersebut memunculkan banyak pengaruh,akan banyak pria yang menyesal menjadi pria. Semoga para caleg yang terpilih sebagai wakil rakyat bisa memperjuangkan aspirasi wakil rakyat yang telah memilihnya,terlepas dari bagaimana cara mereka menarik simpati masyarakat.

Sekarang yang sedang kita sorot adalah pemilu presiden yang akan di langsungkan pada 9 juli mendatang. Tiga capres yang bertarung pada pilpres kali ini memiliki pengalaman pemerintahan. Drama yang terjadi kali ini adalah bercerainya pasangan yang pada tahun 2004 memenangkan pilpres yaitu SBY dan JK. Bahkan mereka berdua saat ini saling mengklaim kinerja mereka di pemerintahan. Sedangkan yang lainnya yaitu Megawati,presiden indonesia yang sukses menggelar pemilu tapi kemudian tidak terpilih kembali. Megawati mengambil topik ekonomi kerakyatan yang sebenarnya merupakan kunci untuk bangsa ini hidup mandiri seperti yang diuraikan oleh JK. Ekonomi kerakyatan yaitu memberdayakan masyarakat untuk kegiatan ekonomi, terutama masyarakat kecil. SBY sendiri berkilah bahwa ekonomi kerakyatan sendiri belum tentu mampu untuk mengangkat bangsa Indonesia dari keterpurukan. Sehingga SBY kemudian menyebut topik yang dia ambil adalah ekonomi jalan tengah. Hal ini karena sebelumnya SBY menggandeng Boediono yang santer dikabarkan penganut neo-liberalisme. Yang sedang hangat dibicarakan adalah pilpres yang hanya butuh 1 putaran saja. Alasan yang agak ekonomis adalah bisa menghemat sampai Rp13 trilliun. Namun yang harus kita ingat bahwa kalau sampai dua putaran jelas yang menang bukanlah Sby-Boediono. Karena secara otomatis kubu Mega dan JK akan bergabung untuk melawan kubu SBY. Yang menjadi presiden indonesia adalah yang terbaik untuk masyarakat Indonesia. Sekarang bagaimana kita menjaga agar proses demokrasi ini dirusak oleh orang-orang yang doyan dengan posisi basah.

oleh Paskalis Herman


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: