opini: Demokrasi yang tidak matang

1 08 2009

DEMOKRASI YANG TIDAK MATANG
Oleh Prianto Manurung

Sesuai dengan undang-undang untuk menjadi calon presiden (capres) harus memperoleh suara 20-25 persen kursi di parlemen, jika tidak mencukupi jalan yang ditempuh adalah berkoalisi. Setelah usai pesta demokrasi pemilu legislatif yang diselenggarakan pada 9 april 2009, terdapat 3 partai merangkul suara terbesar yakni Demokrat, Golkar dan PDIP. Sesuai dengan keputusan Mahkamah Konstitusi, ketiga pemenang pemilu ini masing-masing berhak memilih capres. Sedangkan partai lain seperti PKS, PAN,PKB, PPP dan parti kecil mulai sibuk merapat ke Demokrat. Masih kita ingat partai SBY memilih Boediono sebagai Cawapres, berita yang mengejutkan PKS, PAN, PKB dan PPP merasa kecewa dan ingin memboikot dari Pilpers mendatang. PKS sebagai garis depan menolak pilihan SBY tersebut, demikian juga PAN yang mengatakan Boediono sebagai neoliberalisme (oke zone 15 mei 2009). Kemarahan dari masing-masing partai ini adalah SBY tidak memilih Tifatul sembiring dari PKS dan Hatta Rajasa dari PAN sebagai pendamping SBY. Lain halnya dengan Golkar yang mencalonkan Jusuf Kalla dan langsung merekrut Wiranto dari Hanura yang sesuai dengan slogannya “lebih cepat lebih baik”.

Sedangkan PDIP selalu tarik ulur dengan Gerindra ketika menjelang hari terakhir pendaftaran Capres-Cawapres, masing-masing dari kedua partai akhirnya berkoalisi.


Demi Kursi Kekuasaan

Demi kekuasaan wacana dari PKS dan PAN yang ingin mengancam akan membangun poros alternatif adalah kemarahan dari kedua partai yang tidak dipilih SBY. Setelah SBY mendeklarasikan Boediono sebagai cawapres akhirnya PKS dan PAN menyetujui. Hal ini mencontohkan ketidak konsistenan para kaum elit dan tidak memberikan pendidikan politik. Sikap seperti PKS yang plin-plan terhadap keputusannya, ironis memang rakyat masih butuh makanan, tiap tahun angka pengangguran semakin tinggi dan banyaknya pemutusan hubungan kerja sedangkan angka kemiskinan semakin bertambah.
Demi Rakyat
Para politisi seharusnya merundingkan apa yang dikehendaki rakyatnya meskipun politisi mencari kekuasaan tetapi rakyatlah yang paling penting diutamakan karna dari rakyat untuk rakyat semoga janji kampanye tidak hanya wacana dan rakyat akan menagih ketika para kaum elit ini terpilih.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: