:cerpen: Money Politic

1 08 2009

Money Politic

Oleh Fredek E Lodar

Senja ini begitu indah bagi kami sekeluarga, entah kenapa rasanya senja sore ini lain dari senja-senja yang pernah ada. Auranya begitu menyentuh perasaan dan kalbu, matahari yang memerah bak menandakan sedang bergolaknya negeri ini. Saat menikmati indahnya senja ini, tatkala segerombolan motor melaju kencang dengan meninggalkan suara bising tanpa permisi.

Tumben jalanan rame, Pak” kataku

Oalah bune…. kan besok pada mau nyontreng to” jawab bapak sekenanya.

Lha sampean mau contreng sapa pakne?” tanyaku lagi sambil mengisi senja ini yang sudah hampir mengucapkan selamat tinggal kepada penikmatnya.

Ya, milih yang kasih uang saja to bu, sepertinya nyontreng sapa aja nggak ada gunanya. Ya nyontreng yang kasih duit aja, setidaknya kita dapat duit”.

Iya ya pak, jaman sekarang cari uang susah” kataku sambil beranjak dari tempat duduk menuju dapur mengambil secething kacang rebus untuk menemani obrolan yang buat kami tidak begitu penting. Yang penting bagi kami adalah apakah besok kami masih ada tawaran untuk mengerjakan sawah para juragan atau tidak, kalau sudah tidak ada, ya berarti kami harus mencari pekerjaan serabutan yang lain asal bisa mengisi perut.

Senja sudah berganti malam yang dihiasi segelintir bintang saja. Malam sudah semakin larut, tapi hanya itu-itu saja bintang yang ada, mungkin bintang malas keluar karena memikirkan pencontrengan besok yang mau dibuka tepat pada pukul tujuh.

Sudah malam Pakne, ayo kita masuk” ajakku

Sebentar Bune, kok Pak Bejo belum kesini ya? Biasanya dia mengantarkan uang untuk menyontreng besok. Tiga puluh ribu cukup buat makan kita satu minggu Bune

Ya mungkin saja kalau pemilihan tahun ini bersih, Pakne” sahutku dari dalam rumah

Sampai kira-kira pukul sebelas malam Pak Bejo yang ditunggu-tunggu Pakne belum datang juga. Akhirnya Pakne masuk ke rumah walau dengan perasaan kecewa. Kalau dapat uang dari Pak Bejo kan setidaknya mengurangi pengeluaran selama seminggu tapi apa boleh buat, mungkin benar kata Bune mungkin pemilihan tahun ini sudah benar-benar bersih, batin pakne.

Semakin larut, pakne malah semakin tidak bisa tidur memikirkan uang tiga puluh ribunya yang melayang. Apa benar, bangsa ini sudah benar-benar bersih? Kok secepat ini membersihkan bangsa yang terkenal lihai dalam hal suap menyuap dan korupsi mengkorupsi. Ah, jaman wes bener-bener edan, nek ra melu edan ra geduman. Kalau jaman sudah bebar-benar gila, ya kalau kita nggak ikutan gila kita yang malah celaka.

Pikiran pake malah melanglang buana nggak karuan sampai negara yang nggak tau apa-apa ikut dipikirkannya, kaya pejabat yang baru dilantik aja. Pikiran pakne yang udah kaya pejabat itupun lenyap tatkala dia mendengar suara sijago berkokok. Bergegas dia bangun untuk mempersiapkan peralatan ke sawah pagi ini. Biarpun semalaman tidak tidur karena memikirkan negara, tetapi pakne harus tetap bekerja untuk menyambung hidup keluarganya.

Bune, pakne berangkat dulu ya. Beras yang ada di genug masih ada tidak?”

Masih pakne, masih cukup untuk hari ini

Dengan penuh semangat pakne membuka pintu depan rumahnya yang sudah lapuk dimakan rayap-rayap yang tak bermoral, sudah tau ini pemiliknya orang miskin masih dimakan juga. pakne kaget begitu dia mendapati Pak Bejo berjalan menuju rumahnya.

Bune-bune, Pak Bejo datang………hari ini kita bisa beli beras…..”teriak pakne.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: