cerpen: Kabut

1 08 2009

KABUT

Bau seperti ini pernah singgah dalam rongga hidungku 10 tahun yang lalu sebelum aku benar-benar meninggalkan tempat ini. Benar-benar sempurna tak ada yang berubah. Hhmmm… inilah saat-saat yang kebenci, memngingat yang tidak ingin kuingat…

“Nduk, besok besar jadilah orang yang berguna, jangan seperti Bapakmu itu, ngalor-ngidul, main perempuan. Dikirinya bias hidup tanpa usaha apa??!!”

“Sudahlah, Bu. Saya akan segera mencari pekerjaan, meninggalkan rumah ini. Mungkin akan lebih baik bagi kehidupan kita nantinya.”

“Jangan jauh-jauh, Nduk. Diluar sana bahaya, terima saja lamaran Den Bagus Haniwasito saja. Dia kan orang kaya, jadi kamu tidak perlu bekerja keras, cukup di dapur menyiapkan sarapan untuk suamimu….”

Entahlah,  kutinggalkan saja Ibu di dapaur dengan idealism-idealisme yang terus mengalir. Terus terang saja, aku tidak dapat menerima pemikiran orang semacam itu. Jika semua wanita berpikiran seperti itu, akan sangat percuma Kartini berjuang untuk menyetarakan wanita agar sama derajadnya dengan pria. Hanya akan membuat ku makin membenci laki-laki. Yaahh… inilah hidupku, penuh ketidakjelasan, yang parahnya, aku tidak dapat mengutak-atiknya menjadi rumusan yang lebih masuk akal. Itulah Tuhan, yang selalu membuat masalah menjadi lebih rumit. Seandainya saja aku hilang ingatan agar tidak pernah ingat bahwa Tuhan Yesus ku adalah seorang laki-laki.

Kepergianku meninggalkan kebahagiaan bagi Bapak. Dia akan lebih bebas membawa perempuan sundal ke rumah. Dasar lonthe bejat. Aku tidak rela kaumku diperbudak oleh laki-laki. Akan semakin jarang terdengar teriakan dalam rumah gedhek reyot ini, yang telah menjadi saksi pada apa yang telah terjadi selama ini.

*****

Di kota ini aku mendapat segala yang baru. Suasan baru, pakaian baru, duniaku pun kini baru. Terlalu mudah bagiku untuk melupakan gemercik air sungai. Teriakan anak-anak kecil, keringat para buruh tani, wajah “lugu” desaku yang sangat kubenci dan banyak hal yang dapat membuatku pada akhirnya akan muak dibuatnya.

“Berapa Malam?”

“Lima ratus ribu saja”

“Haaahhhh….  Untuk perempuan seperti mu, mana ada lima ratus? Dadamu aja Cuma ukuran kwaci, montok nggak…..”

Kutinggalkan saja dia. Badannya sungguh bau, keringatnya mengucur deras. Sudah untung Cuma aku tarik lima ratus…..

“Kenapa?”Kabur lagi? Gimana kamu, kayak gitu aja nggak bisa….”

“Udah untung aku hargain lima ratus aja. Eeee…dianya ngga mau, malah pake acara menghina lagi.”

“Yaahh, ya gini ini lho kehidupan kita. Udah bagus mereka mau bayar, lha si Suti itu, sudah ngga dibayar, eee…sekarang malah hamil…”

Aku terdiam mendengarnya. Akankah kehidupanku akan seperti ini terus? Meladeni para pria hidung belang.

Sekarang aku malah menjilat air liur ku sendiri, dulu aku pernah mati-matian mempertahankan prinsipku melanjutkan perjuangan Kartini. Sekarang aku malah benar-benar…..

“Apa yang kamu pikirkan?menyesal?ngga ada gunanya sekarang. Kamu sudah masuk ke dunia hitam dan sekarang kamu tidak bias lepas. Terserah kamu mau marah sama Tuhan-mu itu. Toh dia hanya fatamorgana, hanya formalitas, yaahhh…hanya bisa buat KTP. Ngga usah munafik lah.”

Kata-katanya membuatku benar-benar membuatku yakin bahwa di dunia ini, segala sepak terjang kami ini adalah perbuatan kami, tanpa ada sangkut pautnya dengan laki-laki yang hanya dalam imajinasi kami. Segala impian adalah kami yang mewujudkannya. Jadi…..

Pagi ini aku baru bisa benar-benar merasa nyaman. Dengan keadaan ku sekarang aku tidak pernah menyesal. Aku tidak malu mengatakan bahwa aku pelacur. Bahkan bila ada seorang ibu yang menanyai aku  nantinya tentang keadaan ku, aku akan jujur mengatakan: “Aku seorang atheis yang menjual diri..”

“Siapa yang Adik cari?”

Seorang lelaki setengah baya mengagetkanku. Belum pernah aku melihatnya di sekitar desa ini sebelumnya. Aahh…ya jelas aku sudah lupa, sudah sepuluh tahun aku meninggalkan desa ini, tentunya sudah banyak pendatang selama itu.

“Ehhmm…ibu saya, pak!”

“Ibu sampeyan?? Hahaha…haha…bukankah tanah ini sudah dibeli, Den Bagus Haniwarsito?? Toh, sebenarnya ibu sampeyan sudah menyalahi aturan mendirikan rumah disini…lha wong ibu sampeyan tidak memiliki sertifikat atas tanah ini….”

Bah, memangnya siapa dia berani mengatai ibuku seperti itu? Ku tinggalkan dia dengan berbagai cemoohannya, yang entah dia dapatkan dari mana.

Kesunyian mulai merasuki jiwaku, dimana Ibuku???? Apa yang  telah terjadi sepuluh tahun ini??? Yaa…aku malu mengakui bahwa aku juga merindukan Bapak, tepatnya merindukan teriakan dan tamparan yang dulu pernah mewarnai perjalananku hidupku sampai akhirnya aku memutuskan untuk minggat dan pergi merantau ke kota.

“Permisi, Bu bleh saya tanya dimana sekarang Ibu Musriah tinggal?”

“Musriah??? Musriah…sepertinya saya pernah dengar nama itu. Coba adik cari saja di rumah gedhek deket sungai, mungkin dia tinggal disana.”

“Mungkin??”

Hampir tidak ada orang di desa ini yang merasa mengenal seorang Muriah, bakul serabi di pasar yang memiliki suami hidung belang dan seorang anak perempuan yang entah dimana keberadaannya. Sesampainya di tepi sungai, terlihat rumah reot itu tertutup rapat. Pastilah ibu sedang pergi, ku tunggu saja di tepi sungai. Gemerisik dedaunan, desiran angin dan gemericik air mengingatkan akan wajah “lugu” desaku yang dulu sangat ku benci namun sekarang malah kurindukan. Bahwa kurasa bahwa ternyata aku begitu tidak berpendirian, sudah banyak hal yang aku ingkari.

“Rusmi!!!” suara yang sangat kukenal itu membuatku sadar dari lamunan yang tak berarti.

“Waduh, Nduk… kemana saja kamu selama ini??” Dengan gaya bicara yang sama seraya memeluk tubuhku, tiba-tiba pelukan itu dia lepaskan dan memandang ujung rambut sampai ujung kakiku.

“Oooalaahhh… Nduk rupanya kamu dapat pekerjaan bagus dikota ya?? Kamu sudah berubah nduk.”

Tiba-tiba saja aku tidak tega mengatakan yang sebenarnya pada Ibu tentang diriku sekarang.

:Sudahlah, Bu. Yang penting sekarang Ibu sudah melihat saya, bukankah Ibu sudah senang?!”

Ku tuntun Ibu untuk duduk di depan rumah.

“Salah saya kah Bu? Ibu harus pindah dari tempat ini?”

“Sudahlah nduk memang sudah seharusnya…”

“Tidak saya sangka Den Bagus tega melakukan ini. Apa Bapak meminjam uang padanya??”

“Aahh.. mana bias. Mau memakai jaminan apa?? Apa yang kita punyai?? Hanya pakai baju selembar.”

Begitu merasa bersalah aku demi melihat wajah ibu yang begitu lelah terlihat begitu nrimo pada keadaan yang ada. Ku pegang tangannya dan memberikan selembar amplop yang berisi sedikit hasil dari banyak dosaku..aahh…berat rasanya…

“Apa ini Nduk??”

“Hanya sedikit dari saya, Bu. Ibu bisa usaha menjual kue lagi.”

Ibu memandangiku, ada luka di matanya. Aku berdiri dan perlahan berijin meninggalkan ibuku sendiri yang pasrah menatap langkahku yang mulai menjauh. Dan tak akan terlihat lagi, jangan sampai terlihat. Karena sepi akan mengejar, mengejar hingga musim semi kembali.

Oleh : Ursula Nadia


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: