:wawancara: Lucinda, M. Lett

31 07 2009

Mahasiswa Sosiologi Belum Paham Karya Tulis Ilmiah

Kurikulum baru yang diberlakukan mulai tahun 2003, menerapkan sistem dimana mahasiswa diwajibkan untuk melakukan internship (magang dan penelitian), lalu membuat Karya Tulis Ilmiah (KTI). Pertanyaan yang sama dengan jawaban yang berbeda dari tiap-tiap mahasiswa inilah yang membuat penelitian menarik untuk diteliti. Selain melakukan polling untuk mengetahui pemahaman mahasiswa mengenai KTI, redaksi juga melakukan wawancara dengan Kepala Prodi, Lucinda, M. Lett

3

Polling yang disebarkan lewat angket selama bulan April 2008, dilakukan di selasar FISIP, Lab Sosiologi, di ruang kelas (sembari menunggu dosen) hingga sebelum acara diskusi Sociology Study Club (SSC). Polling ini dilakukan untuk mengetahui pemahaman mahasiswa mengenai sistem yang dinamakan Karya Tullis Ilmiah. Menurut Ibu Lucinda, KTI diberlakukan mulai kurikulum baru tahun 2003 “angkatan 2003 adalah angkatan pertama yang mengambil KTI karena merupakan bagian dari kurikulum tahun 2003. Ada alasan yang signifikan…dari hasil evaluasi kurikulum yang dilakukan oleh prodi sosiologi, biasanya mahasiswa selalu terhambat di pembuatan skripsi. Nah ini sudah berjalan dari tahun ke tahun… kemudian kami mencari terobosan baru…sampai akhirnya kami menawarkan bentuk baru yaitu internship, kemudian KTI itu rumusan masalah dikembangkan dari temuan masalah dari internship… tujuan utamanya membantu mahasiswa agar tugas akhirnya tidak terlalu lama selesainya.” Hal ini senada dengan hasil polling, mayoritas 98 persen mahasiswa mengatakan pernah mendengar KTI.

Program studi Sosiologi mempunyai keunikan dengan program studi lain yang menerapkan sistem KTI berbasis internship. Hal ini diungkapkan Ibu Lucinda “kalau untuk kurikulum itu otonomi masing-masing prodi… terkait dengan internship, (prodi, red) komunikasi punya Kuliah Kerja Lapangan (KKL) tapi tidak di integrasikan dengan tugas akhir kalau kita kan di integrasikan.

Hasil polling menunjukkan sekitar 54,9 persen menjawab tidak atau belum mendapat sosialisasi KTI dari prodi. “Sebenarnya pada waktu seperti inisiasi di tampilkan mata kuliah tapi tidak berarti statusnya seperti skripsi…Hanya persoalannya setiap angkatan baru diberikan buku panduan yang dalam berapa angkatan terakhir dalam bentuk compact disc (CD)… setiap tahun masing-masing prodi bertanggung jawab untuk melakukan revisi… intinya kami berharap yang diberikan oleh fakultas yang berbentuk panduan itu dibaca.” Ujar Ibu Lucinda.

Mahasiswa sebanyak 70,6 persen menyatakan tidak paham mengenai KTI. Ibu Lucinda langsung menanggapi bahwa ini karena masalah buku panduan yang berubah menjadi bentuk CD karena kebijakan universitas. “Setelah ada gempa, kita mulai penghematan dalam banyak hal. Nah persoalannya, buku dalam buku dalam bentuk fisik saja tidak dibaca apalagi CD… mahasiswa dituntut untuk membaca sendiri.”

Pertanyaan terakhir dari polling Buletin Sosiologi yaitu “sejauh mana pemahaman anda mengenai KTI” yang dijawab dengan pertanyaan terbuka. Sebanyak 35,3 persen mahasiswa menjawab “tidak tahu” mengenai KTI, disusul dengan 13,7 persen menulis “tidak jawab” alias jawaban dikosongkan. Mahasiswa yang menjawab 19,6 persen adalah mahasiswa yang mengatakan internship adalah usaha mencari solusi di institusi atau perusahaan tempat mahasiswa bekerja. Sekitar 19,6 persen juga setuju bahwa KTI adalah pengganti skripsi, karena dengan KTI mahasiswa bisa lulus tanpa harus menempuh jalur skripsi. Sedikitnya 5,9 persen mahasiswa berpendapat, KTI adalah tahap awal menuju skripsi dan 5,9 persen pula mahasiswa yang berargumen, KTI hanya memperlambat kelulusan. Untuk menjawab “kebingungan” mahasiswa, dibawah ini petikan wawancara dengan Ibu Lucinda.

Redaksi         : Bagaimana bobot mengenai KTI? Apakah sama dengan skripsi?

Ibu Lucinda : KTI hanya 4 sks, karena intinya sudah dipermudah dari pengamatan selama internship dengan tambahan seminar KTI 2 sks dan internship 3 sks. KTI sudah dipermudah oleh internship karena tidak usah berpikir secara susah payah mengenai topik, jadi bobotnya dalam proses bimbingan tidak seberat kalau skripsi yang 6 sks yang mulai dari nol.

Redaksi         : Kelebihan dan kekurangan KTI, begitu juga dengan skripsi?

Ibu Lucinda : Kita tidak bisa membandingkan KTI dengan skripsi karena riilnya itu merupakan tugas akhir. Hanya memang di (prodi, red) sosiologi kan yang untuk tugas akhir program regular kita namakan KTI. Kelebihannya saya pikir tidak dimulai dari nol sama sekali. Kekurangannya saya kira masih banyak mahasiswa sosiologi yang seolah-olah melepaskan pengalaman internshipnya dengan topik KTI. Jadi terkesan KTI itu sesuatu yang baru… buat saya itu bukan kelemahan substansi KTI tapi kelemahan dalam operasionalnya.

Sedangkan skripsi seringkali dianggap sebagai momok. Sudah ada sikap apriori bahwa skripsi itu pasti sulit, lama. Nah itu berdampak pada proses pengerjaan skripsi yang juga benar-benar lama. Tapi itu skripsi dan sebagai tugas akhir yang bobotnya 6 sks ada kualitas-kualitas tertentu yang berbeda dengan KTI.

Kekurangan skripsi karena proses penyusunan skripsi yang lama.  Kelebihannya, saya merasa tidak dalam kapasitas menilai KTI dan skripsi karena memang berbeda, walaupun sama-sama tugas akhir tapi bobotnya berbeda.

Redaksi         : Apa beda gelar S. Sos dengan S. Sos Honours?

Ibu Lucinda : Memang agak sulit menjabarkannya karena praktek di Indonesia   sedikit berbeda ya. Tapi acuannya dari standar internasional kalau mengambil program honours tetapi prakteknya di Indonesia tidak seperti itu. Yang kami akali adalah dengan pemberian sertifikat khusus yang mengambil program tersebut karena tidak umum untuk menuliskan gelar di Indonesia. Honours (terhormat) kualitasnya jauh lebih baik dari yang regular karena tuntutannya lebih berat.

Redaksi         : Standarisasi mengambil program Honours apa ya bu?

Ibu Lucinda : IPK dan mata kuliah persyaratan yang nilainya B (dari buku panduan: lulus program regular dengan IPK 2,76, lulus mata kuliah minimal B seperti Pengantar Sosiologi, Teori Sosiologi Klasik, Teori Sosiologi Modern, Metode Penelitian Sosial, Metode Penelitian Kualitatif, Metode Penelitian Kuantitatif, Statistik I dan Organisasi dan Manajemen Penelitian)… ini juga bisa memberikan wadah bagi mahasiswa sosiologi yang benar-benar fokus untuk pengembangan akademik yang lebih tinggi.

Redaksi         : Ibu, bisa dikonfirmasi kalau mahasiswa yang hanya mengambil KTI tidak bisa melanjutkan jenjang S2?

Ibu Lucinda : Idealnya seperti itu… tapi kita tidak bisa memaksa universitas tertentu karena KTI juga tugas akhir, maka sksnya secara minimal sudah terpenuhi 144 sks… tapi dalam dunia akademik, bisa melanjutkan atau tidak itu hal yang biasa.

Redaksi         : Kira-kira universitas mana yang bisa menerima mahasiswa yang hanya KTI di Indonesia?

Ibu Lucinda : Saya kira harus semua ga’ bisa mempermasalahkan ya karena secara aturan dengan lulus minimal 144 sks itu memang standar S1 di Indonesia. Meski prakteknya di Indonesia seperti itu tapi yang benar-benar ingin mengembangkan disiplin ilmunya lebih lanjut, silahkan ambil program honours. Ada universitas yang tidak mau terikat dengan aturan universitas lainnya… mungkin bagi univesitas yang mau terima, yang penting lulus ujian masuk.

Kesimpulan

Jadi pada dasarnya mengenai permasalahan diatas, dari Universitas memberikan solusi yang berimplikasi kepada kemudahan mahasiswa didalam proses kelulusan (hanya sampai pada KTI), tetapi melihat kelulusan KTI yang di terapkan di Indonesia, hal tersebut tidak begitu memungkinkan untuk mahasiswa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, karena kebijakan yang diambil Universitas lebih diakui di luar negeri selain di Indonesia. Dilihat dari perkembangan itu pula sekiranya setiap tahun Universitas yang di khususkan dalam program studi akan memperbaiki kebijakan yang sudah diterapkan, dalam hal ini yang masih saja yang menghambat pada bagian operasionalnya yang memiliki kekurangan bisa diperbaiki, sehingga apa yang dirasa kurang bisa lebih baik dari yang diterapkan sebelumnya.

Oleh Anka Yolanda & Aditya Yudha P


Actions

Information

3 responses

9 10 2009
vera

apa lapangan pekerjaan bisa menerima mahasiswa yang lulusan kti?

14 10 2009
aq

lapangannya sih mau terima, tetapi pekerjaannya yang gk mau nrima hahaha

4 12 2010
anka

ehh stop sudah ZALDE! hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: