:Tokoh: Mangunwijaya “Membangun Tanpa Menggusur”

31 07 2009

Mangunwijaya
“Membangun Tanpa Menggusur”

4

Yusuf Bilyatra Mangunwijaya (lebih dikenal dengan sebutan Romo Mangun), lahir di Ambarawa 6 Mei 1929. Ia wafat sesaat sesudah menyampaikan makalah pada sebuah simposium bertajuk “Meningkatkan Buku Dalam Upaya Membentuk Masyarakat Baru Indonesia”. Kematiannya diratapi sebagai kehilangan seorang humanis besar. Semasa hidupnya ia gigih memperjuangkan kemanusiaan. Tidak hanya dengan kata-kata atau lewat tulisan belaka tetapi juga dengan tindakan praksis membela mereka yang miskin, lemah, dan tertindas dalam gelanggang kekuasaan.

Kiprahnya membela masyarakat miskin di bantaran sungai Code yang kala itu terancam digusur oleh pemerintah mengatasnamakan pembangunan penataan kota, tidak hanya menjadi penegasan sikap humanisnya tetapi sekaligus memperlihatkan alternatif lain pembangunan yang manusiawi dalam mengatasi persoalan pemukiman “kumuh” di perkotaan.

Sebuah sikap hidup tentu tidak hadir dengan sendirinya melainkan terbentuk dari perjalanan hidup yang panjang. Ditempa melalui pengalaman, baik yang membuat frustrasi maupun yang memberi pencerahan, yang memerosotkan maupun yang mengangkat. Demikian pula kiranya visi hidup Mangunwijaya terbangun dari pengalaman yang mengubahkan.

Mengamati sejarah Mangunwijaya, Dharwis Khudori (2000) mencatat, titik-titik kisar kehidupan Mangunwijaya diwarnai serangkaian paradoks (repture dan pencerahan) yang berpengaruh membentuk visi hidupnya, mengabdi pada kemanusiaan. Sedikitnya Mangunwijaya mengalami dua kali repture dan dua kali pencerahan.

Repture

Repture bermakna keterputusan dari tradisi dan lingkungan sosial yang memungkinkan seseorang berpikir lain (dalam arti lebih maju) daripada kebanyakan orang dalam masyarakat. Tradisi feodal masyarakat jawa mereproduksi pandangan hidup dominan di mana seluruh energi rakyat dipersembahkan kepada kebesaran keraton, raja dan keluargannya, yang dipercaya sebagai sumber nilai dan kemakmuran. Dalam kesadaran kolektif seperti itu, rakyat menempatkan diri sebagai abdi, bergantung kepada raja dan keluargannya. Sebagai abdi, rakyat tidak mempunyai hak, hanya memiliki kewajiban. Sebagai bagian dari kaum elite, repture yang dialami Mangunwijaya memungkinkan ia keluar dari kesadaran kolektif mentalitas feodal itu.

Repture pertama dalam hidup Mangunwijaya terjadi di bidang agama. Kakek dan nenek Mangunwijaya menganut agama islam, tetapi kedua orang tuanya dalah penganut agama katolik yang taat. Dengan menganut agama katolik, keluarga Mangunwijaya dikenalkan pada nilai-nilai kekristenan yang berintikan cinta kasih, yang di dalamnya terbersit penghargaan akan kemanusiaan.

Repture ini dimatangkan dengan adanya repture kedua yang berlangsung di bidang pendidikan. Mangunwijaya memulai pendidikan dasar di HIS Muntilan (1936-1943). Meski serba kolonial, pendidikan pada masa itu tidak hanya melatih kecerdasan, tetapi juga memberi pendidikan kemanusiaan. Kelak, Mangunwijaya mengenang masa-masa di sekolah dasar itu bagai di sorga.

Tidak hanya pendidikan formal di sekolah, pendidikan di rumah pun turut mendukung repture itu. Sejak dini, ayah Mangunwijaya telah menanamkan benih moral bahwa “hidup ini bukan hanya nasi dan uang” dan bahwa “kita harus mencari yang sejati”. Wejangan ini selalu menginspirasi hidup mangunwijaya. Jejaknya juga dapat kita temukan dalam karya tulisnya, misalnya dalam novel Ikan-ikan Hiu Ida Homa ia menulis dengan indah: “uang tidak kucari dan emas membuatku menggeleng kepala. Hidup damai yang tahu bahasa bintang itulah pamrihku.”

Pencerahan

Keluar dari kesadaran kolektif oleh adanya kedua repture itu, Mangunwijaya belum menemukan visi hidupnya hingga ia mengalami pencerahan pertamanya.

Sewaktu menempuh pendidikan SMA di Malang (1948-1951) yang terputus-putus akibat perang. Mangunwijaya bergabung dengan barisan Tentara Pejar (TP), ia ikut bergerilya dan beberapa kali terlibat dalam pertempuran antara lain di Ambarawa, Magelang, dan Semarang di bawah komando Mayor Soeharto (Alm. Mantan Presiden Indonesia).

Usai perang, pada tahun 1950 diadakan sebuah pesta di Malang untuk merayakan kemenangan Republik. Kala itu masyarakat Malang menyambut tentara yang baru pulang gerilya bak pahlawan bunga bangsa. Namun pidato Mayor Isman, Komandan Batalyon Tentara Pelajar, membalikkan semua itu. Mayor itu berpidato:

 “saya tidak menghendaki saudara-saudara menyanjung kami sebagai pahlawan. Kami bukan pahlawan, kami sebetulnya tergolong penjahat. Kami sudah membunuh, merampok, dan membakar rumah. Kami masih muda tetapi tangan-tangan kami berlumuran darah. Kalau saudara-saudara ingin menolong kami, jangan dengan cara ini bimbinglah kami agar menjadi orang biasa di tengah-tengah masyarakat, untuk membangun Indonesia yang sudah merdeka ini.”

Pidato yang penuh kerendahhatian itu membuat semua orang tercengang dan terdiam panjang. Bagi Mangungwijaya, pidato itu mempunyai makna yang dalam. Ia tersentak, bahkan sampai mengalami krisis hari depan hingga memerlukan beberapa hari ret-ret untuk memulihkan kembali kegelisahannya. Di sisi lain ia tercerahkan; sesungguhnya bukan merekalah (para tentara) yang menjadi pahlawan melainkan rakyat.

Pidato Mayor Isman itu menjadi titik balik yang mengubah seluruh hidupnya. Sejak itu ia ingin mengabdikan diri pada meraka (rakyat) untuk membayar utang. Pengalaman ini pun mematangkan benih-benih moral yang ditanamkan ayahnya. Ia percaya pekerjaan yang paling mulia bagi dirinya adalah mempersembahkan hidupnya kepada rakyat. Dan ia memilih menjadi pastur agar ia tidak tergoda untuk mencari “uang” dan “kekuasaan” sehingga ia dapat sepenuhnya mengabdikan diri.

Pada tahun 1959 ia ditabiskan menjadi pastur. Walaupun ia didekati oleh ordo Jesuit yang prestisius, ia memilih menjadi pastur praja. Ordo lokal yang menekankan kegiatannya untuk rakyat kecil di desa-desa. Sehari setelah ditabiskan, ia dipanggil Uskup Agung Semarang, Mgr. A. Soegijapranata untuk melanjutkan studi arsitektur di ITB Bandung. Setahun kemudian dilanjutkan ke Sekolah Tinggi Teknik Rhein, Westfalen, Aachen, Jerman. Di sananalah ia memperoleh pencerahan keduanya yakni dari, Liberius Schalhese, dosen muda di bidang tata kota yang mengajarkan bahwa tata kota bukan hanya teknik tetapi lebih-lebih politik.

Pengaruh Mgr. Soegijapranata

Selain repture dan pencerahan itu, agaknya yang luput dari perhatian Khudori adalah pengaruh nyata Mgr. Soegijapranata pada diri Mangunwijaya. Dalam sebuah wawancara ia menuturkan; “kalau harus menyebut guru-guru saya yang berpengaruh, nama pertama yang saya sebut adalah Soegijapranata. Saya jadi begini, antara lain, juga oleh nilai-nilai pelajaran yang saya terima dari beliau.”

Pokok pikiran Mgr. Soegijapranata yang selalu dikemukakan Mangungwijaya dalam setiap kesempatan adalah bahwa:

“tugas orang katolik itu bukan untuk membabtis. Itu urusan rohkudus. Tugas orang katolik itu bagaimana membuat baik Negara dan bangsa Indonesia”.

Dalam pemahaman Mangunwijaya, yang Soegijapranata maksudkan adalah bahwa yang nomor satu itu bukan gereja Indonesia, tetapi lebih luas bangsa manusia, lebih sempit bangsa Indonesia. Penekanan yang mengutamakan manusia ini diakui Mangunwijaya meresap kedalam kalbunya. Segala filsafat teologi menurutnya hanya sekedar syarat supaya bisa diberkati.

Pengaruh Mgr. Soegijapranata itu pula yang menjiwai konsepsi Mangunwijaya tentang religiositas (pemisahan iman dan takwa dalam perilaku keseharian dengan agama secara formal). Dan penekanannya pada praksis. Maka ia menghayati panggilan pastoral sebagai;

 “iman adalah tindakan bukan omongan. Tindakan manusia yang membuat manusia menjadi lebih manusia. Gampang sekali berdoa tetapi yang utama adalah untuk membela orang kecil. Semacam itulah panggilan pastoral bagi saya”.

Dalam tulisannya, Memuliakan Allah Mengangkat Manusia, ia menegaskan kembali:

“Seluruh hidup Yesus memang mengacu kepada Allah Bapa, tetapi pengejawantahan acuan itu terjelma dalam kepedulian terhadap si manusia. Ketuhanan dan kemanusiaan dalam diri Yesus lalu menjadi satu perkara yang tidak dapat dipisahkan lagi. Sehingga bagi para murid Yesus tidaklah mungkin lagi pemujaan dan pemuliaan tuhan tanpa kepedulian terhadap nasib manusia.”

Membangun Tanpa Menggusur, Kiprah Mangunwijaya di Kali Code

Pengalaman-pengalaman otentik dan refleksi kembali yang mendalam itulah yang membawa Mangunwijaya hidup dengan kaum miskin yang paling bawah dalam stara sosial. Pengemis, gelandangan, pemulung, pelacur, miskin, kumuh, dan terlantar di tepi kali Code. Ia datang bukan untuk berekreasi, tetapi mendampingi mereka membuat sesuatu untuk memajukan hidup mereka. Walau kemudian harus berhadapan dengan kekuasaan orde baru yang represif dan menindas. Mangunwijaya memulai kegiatannya di Terban (1981-1983) kemudian Gondolayu (1983-1986).Kiprahnya di kampung Code merupakan yang pertama dan mengawali berbagai tindakan praksisnya membela kemanusiaan.

Kampung Code bagi Mangunwijaya adalah contoh sempurna dari persoalan kemanusiaan di negeri ini. Contoh nyata kegagalan membangun tradisi dan sistem kemasyarakatan yang menghargai kemanusiaan.

Secara kultural, oleh penguasa yang bermental feodal -dalam pandangan Mangunwjaya, era orde baru merupakan titik balik kembali ke zaman feodal- mereka dianggap “wong cilik”, golongan diluar hitungan, tidak layak mendapat penghormatan, kasih sayang dan perlindungan. Keberadaan mereka dipandang sebagai sampah masyarakat, daerah hitam, sarang pelacuran dan kriminal.

Disamping itu, secara struktural mereka menjadi korban pembangunan ekonomi yang pincang. Di desa mereka tidak dapat memperoleh penghidupan, di kota mereka tidak dapat megakses pekerjaan formal. Dan secara politik, pemerintah tidak mengakui keberadaannya, mereka dianggap sebagai penduduk tidak sah. Mereka tidak terdaftar di pemerintahan kota tingkat manapun. Mereka tidak diberikan Kartu Tanda Penduduk (KTP). Pendeknya, mereka bukan warga negara yang memiliki hak-hak ekonomi dan politik. Dan sewaktu-waktu mereka dapat digusur. Di sinilah Mangunwijaya menemukan lahan untuk menerapkan mazhab arsitekturnya bahwa tata kota bukan semata teknik-estetis tapi lebih-lebih persoalan sosial-politik.

Melihat realita yang menyedihkan seperti itu, visi Mangunwijaya tidak hanya untuk memperbaiki pemukiman warga setempat, tetapi lebih dari itu adalah pembangunan total manusia sebagai gerakan pemerdekaan.

Namun, Mangunwijaya sebagai orang yang mengutamakan praksis daripada teori -dalam berbagai kesempatan, Mangunwijaya selalu menekankan bahwa praksis selalu mendahului teori dan bukan sebaliknya. Maka ia tidak terjun dengan konsep yang sudah jadi melainkan lebih banyak dilaksanakan sebagai proses trial dan error sesuai dengan kondisi dan perkembangan yang ada di lapangan. Dalam prakteknya, ia memanfaatkan program pememerintah yang disebut TRIBINA, yakni Bina Manusia, Bina Usaha dan Bina Lingkungan.

Ketika Mangunwijaya mulai masuk ke kampung Code, ia melihat keadaan masyarakat setempat lebih berupa kumpulan individu daripada sebuah kelompok masyarakat. Karena itu program tribina diarahkan untuk membentuk kampung kolektif (komunitas) bukan individu-individu yang saling terpisah dan saling bersaing. Ini diwujudkan dengan membentuk paguyuban kerja, koperasi simpan pinjam, arisan, pembentukan kas kampung, pengadaan saresehan-saresehan, dan pembangunan balai kampung dan ruang serbaguna sebagai pusat kegiatan bersama.

Pada bulan april 1986 ketika pemerintah hendak menggusur penduduk di bantaran kali code untuk membangun green belt (sabuk hijau) kota, ia menentang keras. Ketika penggusuran semakin nyata, ia bertekad untuk melawan dengan mogok makan/puasa. Dalam sebuah tulisannya yang tidak diterbitkan, penuh amarah Mangunwijaya menulis:

“saya hanya ingin pada saatnya nanti menapaktilasi Nabi Isa dan Mahatma Gandhi, memohon dengan jalan tanpa kekerasan, antara lain dengan puasa/mogok makan. Dan, jika langkah tanpa kekerasan ini masih juga dianggap salah, maka saya siap untuk masuk penjara atau mati sekalipun. Saya sungguh tidak berambisi menjadi pahlawan. Bahkan saya akan iklas disebut don Quichotte yang konyol atau sinting. Tidak apa. Asal saja suara dan nasib mereka diperhatikan, dihargai, keluarga-keluarga mereka tidak dirobek-robek, nasib mereka tidak dilempar-lempar sesuka selera seperti bungkus sampah.”

Dengan segala upaya perlawanan Mangunwijaya dan masyarakat setempat rencana penggusuran dihentikan. Pada tahun 1991, Mangunwijaya mulai total memperbaiki pemukiman penduduk. Dengan keahlian arsitekturnya, kampung kumuh diubah menjadi sebuah kampung hijau nan eksotik. Dan memperoleh beberapa penghargaan antara lain The Aga Khan Award for Architecture tahun 1992, dan The Ruth and Ralph Erskine Fellowship Award dari Stockholm, Swedia, kategori arsitektur demi rakyat yang tidak diperhatikan.

Makna yang tersembunyi dibalik kiprah Mangunwijaya membawa misi kebudayaan melalui dua cara. Pertama, penyadaran penduduk kampung Code pada khususnya dan masyarakat luas pada umumnya, tentang keharusan perubahan dari yang “feodal” kepada yang “egalitarian”. Kedua, memberi dirinya sebagai contoh, yang dalam pandagan hidup feudal termasuk “priyayi” itu bebas hidup bersama dengan wong cilik dalam hubungan yang egaliter

Berpulang

Hari itu tanggal 10 februari 1999, pada waktu rehat acara simposium tersebut, ia berbincang-bincang dengan Mohamad Sobari. Dipeluknya Sobari dan bersandar dipundaknya, lama-lama memberat, bergelantung dan akhirnya jatuh terkulai. Ia meninggal tidak lama berselang. Dan esoknya, Mohamad Sobari menulis: “Romo Mangun menutup “kenangan” kehidupan Romo sendiri dengan “kalimat” indah: “meliuk di pundak saya dan rebah.”

Walaupun Mangunwijaya telah lama menutup usia, tetapi semangat kemanusiannya tidak akan pernah hilang dalam sejarah. Kampung code merupakan “monumen” yang menandai warisan humanisme Mangunwijaya itu.

                                                                                                                                                                                   Oleh Yazalde Manaka Savio


Actions

Information

One response

2 10 2009
Fondaeursz

Romo Mangun dia telah membuka hidup semua orang, dan membantu yang kesusahan dari tersusah, saya sangat menghargai blog ini karena telah mem-post artikel ini, terima kasih semoga anda juga bahagia dalam hidup.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: