:pustaka: Mahasiswa Dalam Pusaran Neoliberal

31 07 2009

Mahasiswa Dalam Pusaran Neoliberal

1

Judul Buku  : Dari Demonstrasi Hingga Seks Bebas: Mahasiswa di Era Kapitalisme dan Hedonisme

Penulis          : Nurani Soyomukti

Penerbit       : Garasi Pers, Yogyakarta, 2008

Gerak perkembangan kapitalisme kini telah bertransformasi menuju apa yang dinamai neoliberalisme. Ditandai dengan liberalisasi perdagangan (baca: pasar bebas). Namun, sebagai sebuah formasi-sosial, neoliberalisme sejatinya bukan hanya proses ekonomi, tetapi juga proses kultural. Jika proses ekonomi bermain di tingkat makro, proses kultural secara mendalam merasuki kesadaran tiap-tiap individu dalam kehidupan sehari-hari, dan mempengaruhi cara berpikir, bertindak, dan merasa. Kiranya dalam situasi seperti itulah berlangsung kehidupan mahasiswa kekinian.

Melalui buku ini, Nurani Soyomukti mau menyingkap bagaimana neoliberalisme melalui agen-agen penyebar “ketundukan” (dalam konsep Louis Althusser; apparatus Negara ideologis) utamanya, pendidikan dan media mengkonstruksi atau mereproduksi cara berpikir, watak, dan gaya hidup mahasiswa di era ini (bdk: hal, 22). Selanjutnya, menawarkan suatu alternatif gaya hidup bagi mahasiswa (hal, 23). Alih-alih menggunakan pendekatan moralis yang menghakimi secara hitam-putih, dan berujung pada solusi moral-religius, Soyomukti menelaah dengan analisis kelas (Marxian), phsikologi kritis (Erich From), dan filsafat cinta yang membebaskan (Khalil Gibran). Alhasil buku ini tidak hanya memaparkan pasang surut kesadaran kritis mahasiswa yang memuncak pada sejarah gerakan mahasiswa itu sendiri ditiap kurung waktu, melainkan menyentuh fenomena terdalam kehidupan mahasiswa. Barangkali itulah salah satu keistimewaan dari buku ini.

Ditilik dari posisi sosialnya, mahasiswa tergolong kedalam kelas borjuis kecil, yang memiliki akses luas terhadap informasi dan ilmu pengetahuan. Karena itu mahasiswa mempunyai potensi sebagai kekuatan kritis dan berlawan terhadap segala bentuk struktur kekuasaan yang menindas (hal,22). Sebabnya, kapitalisme-neoliberal, berkebutuhan untuk “menundukan” (baca: mengikis kesadaran kritis) mahasiswa. Nurani Soyomukti dengan yakin menulis; saya melihat konstruksi gaya hidup dan budaya, meskipun bukan kontradiksi pokok (kontradiksi yang menjadi poros dan penyelesaiannya harus di utamakan, pen), merupakan pintu masuk bagi kapitalisme untuk bertahan dan melakukan penindasan. Dan karena itu mahasiswa ditundukan melalui cara: dikurung dalam kampus, dan diracuni dengan kesenangan semu (hal,35).

Dikurung dalam kampus bermakna, dijauhkan (baca: diasingkan) dari realitas sosial disekitarnya. Kurikulum yang didikte pasar diorientasikan semata untuk menghasilkan mahasiswa-mahasiswa yang siap pakai untuk dunia kerja. Maka kampus sebagai institusi pendidikan hanya melahirkan generasi-generasi yang hanya memikirkan diri sendiri, borjuis kecil, dan spesies-spesies manusia yang tidak ada gunanya bagi usaha menciptakan nilai-nilai kemanusiaan (hal, 54). Dalam kondisi seperti itu mahasiswa kehilangan idealisme untuk mencorat-coret tembok sejarah. Ia sulit membayangkan diri sebagai kaum intelektual, pembela rakyat, atau aktivis perubahan.

Keadaan itu diperparah dengan pencitraan buruk mahasiswa melalui perangkat ideologis kapitalisme-neoliberal yaitu media. Terutama media televisi dimana didalamnya kalangan mahasiswa diangkat didalam kisah sinetron, opera sabun, dan juga acara-acara lain seperti reality show, yang semuanya hanya mengangkat kehidupan sebagian mahasiswa yang hanya sibuk mengejar urusan “cinta” dan pergaulan saling berburu pasangan dengan dramaturgi yang berlebihan. Dalam kisah sinetron, misalnya, kampus hanya menjadi aktivitas untuk “kisah cinta sempit”  yang bernama “pacaran” dengan warna gaya hidup yang menonjolkan tampilan fisik, trendi-trendian dan gaul-gaulan. Pendeknya, media yang mengabdi pada kepentingan modal kapitalis, berupaya membabat habis bahwa mahasiswa adalah kaum intelektual, yang sering berbicara soal masalah masyarakat bangsa dan dunia (kehidupan). Diganti dengan menebarkan pandangan bahwa mahasiswa adalah mereka yang dengan bersuka ria menghabiskan waktu bersenang-senang dan menjadikan kampus sebagai menara gading kekuasaan pasar modal. Selain itu, media, perangkat ideologis paling cangih kapitalisme-neoliberal. Berfungsi “memanggil” atau “menginterpelasi” (dalam pengertian Althusserian) mahasiswa menjadi agen/subjek perantara budaya pasar dan sekaligus sebagai sasaran produk-produk kapitalistik (hal, 45).

Lalu, apa yang tersisa pada mahasiswa? Ia “ditundukan” dan “diinterpelasi” menjadi kepanjagan tangan kapitalisme-neolibereal yang menindas. Tak luput dirinya sendiri. Namun, Soyomukti tidak kemudian apatis terhadap mahasiswa atau pesimis pada kemampuan kritis mahasiswa. Segala yang merupakan konstruksi sosial dapat diubah.

Jalan yang ditempuh oleh Soyomukti adalah mula-mula menerapi mahasiswa dengan psikologi kritis Erich Fromm yang berintikan metode “pemahaman diri sendiri”. Dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis. Siapakah kita? Apa yang menjadi keinginan terdalam kita? Siapakah mahasiswa itu? Apa yang menjadi tanggung jawabnya (baik individu maupun sosial)? Harapannya dengan memahami diri sendiri, ia akan memerdekakan diri (keluar dari citra palsu yang dibangun tentang dirinya). Lalu akhirnya bertransformasi menjadi perjuangan untuk menciptakan struktur dan sistem yang kondusif bagi kemerdekaan setiap individu, melenyapkan segala bentuk penindasan fisik maupun mental (hal, 83). Membaca buku ini, kita menjalani terapi psikologis yang mencerahkan.

Kemudian, mengenalkan pada cinta universal Gibranian. Alih-alih cinta ekslusif yang narsistik dan sempit antara dua pasangan, cinta universal Gibranian, adalah sebentuk cinta atau kepedulian universal yang mendalam terhadap segala bentuk ketidakadilan, dibarengi dengan tindakan perlawanan.

Buku ini ditutup dengan sebuah rekomendasi sebagai tawaran alternatif untuk gaya hidup mahasiswa. Pada intinya mengajak untuk senantiasa berpikir kritis, dan senantiasa mengasah nalar kritis, melalui kegiatan menganalisis, membaca, berimajinasi, berdiskusi, memproduksi pengetahuan (baca :menulis),  berlawan/ berpraksis (baca: terjun dalam tindakan politik praksis).

Akhir kata selamat membaca dan praksiskan!!!

Oleh Yazalde Manaka Savio


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: