:sociology event: Bedah Film Dokumenter “Spirit Kapital Kaum Bakul Jawa di Balik Ritual Kemukus”

30 07 2009

Bedah Film Dokumenter
“Spirit Kapital Kaum Bakul Jawa Di Balik Ritual Kemukus”

Dalam acara bedah film dokumenter yang dilangsungkan pada hari Sabtu, 26 April 2008 atas kerja sama HMPS Sosiologi yang membawahi Sociology Study Club (SSC) dengan Prodi Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, mengkaji bagaimana fenomena kaum bakul jawa di balik fenomena Gunung Kemukus dan makam Pangeran Samudro. Film dokumenter tersebut merupakan sebuah aplikasi teori sosial keagamaan yang dituangkan dalam sebuah laporan penelitian mahasiswa Sosiologi Agama Fakultas Ushuludin UIN Sunan Kalijaga.
Fenomena di Gunung Kemukus membuka sebuah tabir mistis dari sebuah tempat yang terletak di Desa Pendem, Kecamatan Sumber Lawang, Kabupaten Sragen Jawa Tengah. Sekitar ± 8.000 sampai 10.000 manusia mencuci kelambu makam dan berziarah kemudian melakukan ritual. Pelaku mulai dari aparat hingga kepala desa, menyediakan jamuan berupa narkoba dan minuman keras.
Sebelum berziarah ke makam, peziarah harus melakukan hubungan seks dengan pekerja seks komersial (PSK) yang difasilitasi oleh pemerintah daerah. Standar tarif yang ditawarkan para PSK berkisar Rp 25.000 sampai Rp 70.000, uang lebih jika menggunakan PSK semalaman. Selain itu tersedia juga halaman parkir bagi peziarah, dan organisasi GERTA (Keamanan yang mengelola wayangan gamelan). Peziarah yang datang bukan hanya para laki-laki, tetapi ibu-ibu serta orang-orang yang perekonomiannya menengah keatas.
Dilihat dari bidang sosiologis, seks dan mistimitikasikan persoalan kacamata jawa terekam dari media visual. Terkuaknya persoalan domestik orang jawa bahwa proses yang sakral dan proses yang matang adalah sebuah hal yang diakui tetapi legal, bahkan Dinas Pariwisata menjadikan tempat tersebut sebagai objek wisata, yang terjadi sekitar tahun 1960-1982. Permasalahan reduksi yang menjadi masalah publik bahwa peziarah yang datang adalah manusia yang mencari persugihan untuk mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan dan mereka percaya akan mendapat berkah dari Pangeran Samudro. Sisi antropologis yang ditunjukan yaitu kepercayaan seseorang pada nilai sakral, yang dilihatkan pada tindak tanduk perilaku mereka.
Motif para peziarah yang datang adalah untuk mencari uang guna menambah kekayaan mereka dan pesta rakyat serta pergumulan ekonomi menegah kebawah. Di tempat sakral tersebut berlaku seks bebas. Institualisasi seks yang ilegal, menjadi mitos meletimasi untuk melegalkan seks di kemukus (selain pasangan suami-istri), dan dilakukannya perjanjian antara peziarah, pacar serta selingkuhan pada saat berada di makam tersebut, agar ritual menjadi lebih afdol. Peziarah yang kaya duluan, harus saling membantu selama 7 hari dan tidak boleh diketahui pihak keluarga, tetapi kepala desa dan Dinas Pariwisata tidak menyepakati hal tersebut. Dari hasil penelitian aset penziarah yang menjadi penduduk tetap sebesar 170 juta rupiah pertahun, 10 % dikembalikan ke kepala desa. Penduduk asli yang mayoritas beragama Islam mengatasnamakan moral sama dengan aset mereka. Asumsi pegangan awal, menganggap agama dalam arti sempit, pertemuan agama Islam dan agama lokal (jawa) dimaknai dengan agama secara luas.
Kemukus menjadi pasar, masih dalam satu konteks, sesuatu hal yang memotifasi kaum bakul jawa adalah meningkatkan taraf kehidupan mereka, terbukti dari hasil wawancara kepada dua guru kunci yang berada disana peziarah didominasi oleh para pedagang kecil, angkringan, pedagang nasi,dan pedagang kaki lima. Tekanan batin terjadi, karena baru sekali meneliti sangat mudah mendapat informasi, serta kendala psikologis yang memperlihatkan transaksi yang begitu transparan.
Terdapatnya Makam Pangeran Samudro yang berada di Gunung Kemukus, menimbulkan ritual yang harus melakukan seks dengan PSK atau dengan pasangan ilegal, guna mendapatakan keinginan yang kita utarakan. Fenomena yang mengatakan bahwa kemukus menjadi sebuah pasar dimana antara peziarah, penduduk asli serta pemerintah yang memiliki andil dan terjalin kerjamasama. tidak ada yang dirugikan, tetapi malah saling membutuhkan legimitasi dari pihak pariwisata.
Simbol religius kemudian menjadi barang dagangan, contohnya para juru kunci yang semula menjadi pegawai pemerintah yang harus taat dengan peraturan, malah kesakralan mereka tereduksi karena disalahgunakan oleh pihak mucikari dan para PSK.
Jadi dilihat dari fenomena yang terjadi bahwa apa yang terjadi adalah balance karena saling membutuhkan dan saling ketergantungan yang tinggi. Untuk menghentikannya akan sangat sulit karena fokus ritual tersebut yang menjadi prospek kebanyakan etnis jawa sehingga susah untuk ditinggalkan.

Oleh Aditya Yudha


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: