:resensi buku: ichen&ichen

29 07 2009

Judul buku: ICHEN DAN ICHEN
Pengarang: Rosida
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2003
Halaman: 141
Harga: Rp. 5.000,00

images

Kalau orang bilang cinta itu buta, mungkin tidak buat orang Jawa yang mengenal istilah bibit, bobot dan bebet. Tapi buat anak muda jaman sekarang bibit, bobot dan bebet tidak terlalu penting, asal ada CINTA.
Memasuki bulan penuh CINTA yaitu bulan Februari segala sesuatu dihubungkan dengan kebersamaan, sayang dan pacar. Gimana jadinya kalau cinta yang kita punya untuk pacar ternyata tidak mulus? Apa yang akan kita lakukan jika pujaan hati ternyata hanya halusinasi kita sendiri?.

Novel pendek karya Rosida ini menggambarkan cinta dengan banyak perbedaan dan teka-teki. Perbedaan agama, budaya dan ras ternyata dapat menjadi penghalang rasa cinta buat pasangan. Orang Jawa yang terkenal dengan sikap kalem, lembut dan sabar bersanding dengan orang Cina yang kerja keras dan ulet digambarkan dengan dua tokoh utama yaitu Ichen si gadis Cina dan Heri si pemuda asal Madura.

Kisah cinta dalam novel Ichen Dan Ichen ini memberi inspirasi buat anak muda supaya memperjuangkan cinta meskipun ada perbedaan. Tapi, ingat jangan sampai kita menyakiti orangtua atas keegoisan sendiri. Karena memang cinta adalah pilihan dan orang lain tidak dapat memaksa.

Novel ini membawa pesan identitas tunggal yang tak lain adalah ilusi. Siapa Cina? Siapa Jawa? Nilai kemanusiaan kita ditantang ketika keberagaman manusia ditempatkan ke dalam satu sistem kategorisasi tunggal yang sewenang-wenang (Amartya Sen, 2007). Ironisnya, identitas selalu dijadikan tameng politik dan pijakan budaya. Padahal, kebudayaan bertumbuh dari perjumpaan antarmanusia. Lakon ketoprak Sam Pek-Eng Tay misalnya, hanyalah satu contoh dialog dalam kebudayaan. Tak ada sekat. Sedangkan ciri fisik hanyalah tubuh yang membalut pikiran dan jiwa; “dunia kecil” dalam “dunia besar” bernama Semesta.

Heri yang akhirnya mendapatkan cinta Ichen harus menghadapi tantangan baru karena orangtuanya menentang keras ia menikah dengan gadis Cina. Mampukah pemuda Madura ini meluluhkan hati orangtua dan berhasil menikahi gadis Cina? Bacalah sendiri dalam novel ini agar menemukan jawaban. Secara keseluruhan, gaya penulisan yang digunakan Rosida tergolong sederhana, tidak berbelit-belit, membuat novel bisa dengan mudah dicerna.

Selamat membaca!

Oleh:
Cornelia Putri Karisma M


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: