:resensi buku: be negative!

29 07 2009

Judul buku: Be Negative
Pengarang: Naomi Susan
Penerbit: iNSpired books, Jakarta, 2007
Halaman: 100
Harga: Rp. 34.000,00

be negatif

Setiap orang menghindari kata negative. Tak selamanya kata negative itu berarti buruk, tidak baik dan jahat. Buku ini merupakan renungan kita dalam bertindak dan menjadi acuan dalam berkarya. Kata – kata yang tak sempat kita pikir, ternyata muncul dalam buku karya Naomi Susan.

Banyak orang sukses dan mapan mengalami gagal dan jatuh pada awal perjuangan karir. Kita pasti pernah mendengar ungkapan “ gagal adalah sukses yang tertunda “, padahal gagal sangat dekat dengan kita. Buku ini meletakkan kekuatannya pada bagaimana penulis mengungkapkan ide kesuksesannya menjadi wanita karir.
Mengutip dari Be Negative bahwa negatif identik dengan kata marah, gagal, tunda, jangan, tidak, dll. Sedangkan positif diwakilkan kata lakukan, sabar, berhasil, konsisten, boleh, iya, dll. Jika kedua unsur digabungkan maka akan membentuk kalimat positif seperti jangan lakukan.

Setiap orang memiliki daya dan upaya sendiri untuk mencapai tujuan hidup. Daya dan upaya yang ada hendaknya diimbangi dengan kepercayaan diri dan latihan. Seperti bisnis, modal sosial dibentuk berdasarkan kegiatan-kegiatan ekonomi dan sosial dimasa lalu dipandang sebagai faktor yang dapat meningkatkan dan jika digunakan secara tepat mampu memperkuat efektifitas pembangunan. Yang masih perlu dikaji lebih jauh adalah bagaimana konsep ini dapat diekspresikan dalam istilah-istilah operasional dan diwujudkan dalam sebuah konteks pengembangan individu dan masyarakat.

Tesis modernisasi yang trendi pada tahun 1970-an, yang menganggap keberhasilan, kegagalan, atau tersendatnya proses pembangunan di negara-negara terbelakang (underdevelopment countries) disebabkan budaya penduduk Asia, Afrika, dan Amerika Latin tidak kondusif untuk munculnya sikap-sikap yang inovatif, kreatif, dan mengejar prestasi. Katakanlah, nilai dan orientasi budaya masyarakat tidak mendorong berkembangnya etos kewiraswastaan, kepeloporan, kemauan mengambil risiko, dan menolak sesuatu yang baru yang datang dari luar.

Naomi Susan memberikan kemanjaan pada pembaca setia buku – buku karangannya dengan memberikan satu pak kartu yang berisi kata – kata mutia dalam meraih kesuksesan. Jika ada pertanyaan mengapa negara-negara di Asia, Afrika, dan Amerika Latin miskin, karena nilai-nilai budaya penduduknya tidak memberi peluang munculnya perilaku inovatif dan produktif. Di sini, tesis modernisasi ternyata menyalahkan budaya masyarakat negara-negara terbelakang dan membenarkan budaya masyarakat negara-negara Barat. Setiap orang perlu mendapat pengakuan dari orang lain, sehingga kepercayaan diri muncul.

Buku dengan tebal 100 halaman ini wajib dibaca oleh orang – orang yang mengaku punya nyali dalam berkarya dan bekerja. Dengan pemikiran yang berbeda, Naomi mengajak kita untuk meraih sukses dengan menggabungkan dua komponen negatif menjadi hal positif.

Catatan reflektif

Memang mesti kita akui, masyarakat dan lembaga-lembaga publik di negara kita masih jauh dari kedisiplinan dan keteraturan. Tapi apakah ketidaktertiban itu memang melekat pada kebudayaan kita? Apakah kebudayaan masyarakat kita begitu longgar (loose structure), terlalu banyak memberi kemudahan kepada individu untuk mengubah aturan-aturan agar sesuai dengan keperluannya, sehingga mendorong munculnya sikap seenaknya sendiri atau egoistis, sering tidak menepati janji, tidak mau bertanggung jawab, dan tidak disiplin?.

Selamat membaca !

Oleh:
Cornelia Putri Karisma M


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: