:puisi: nyanyian para jangkrik muda

29 07 2009

“Nyanyian Para Jangkrik Muda”

Nyanyian para jangkrik muda yang terdengar keras dimusim semi.
Para tikus menjadi kehausan didalam keringnya liang,
para ular yang berbisa menjadi mabuk didalam belantaran alang-alang yang yang kelihatan semakin kusam.
Momen ini sangat pahit bagi mereka. namun, bagi kami “para jangkrik muda” inilah momen yang sangat manis yang kami nantikan selama ini.

Kini, teriknya maha surya menghembuskan sinar yang menjiwai,
daun-daun muda t’lah menantinya semenjak lima ratus dua puluh empat tahun dan empat bulan yang silam.
Kini saatnya mereka berbahagia.
Hujan bolehkan engkau berhenti ? karena diseberang sana t’lah tiba sang pelangi yang dengan sengaja mengusirmu, sebab, ulah dan semua kemunafikan yel-yel yang engkau teriakkan selama ini.

Lebah merah kini kembali menyatu bagaikan sarang burung layang-layang yang terbuat dari getah madunya sendiri,
Kini tak ada lagi asap yang bisa menakutkan-Mu, yang ada hanyalah bunga kopi yang setia menawarkan sari dan aromanya disepanjang masa.

Elang hitam mengayun-ayunkan sayapnya diatas rumunan kerumunan kami ” para jangkrik muda”,
Dengan sorotan matanya yang menerkam,
Semut hitam pun ikut berlomba tuk merampas madu-Mu.
Wa…hai, sang elang, dengan cakar-Mu yang tajam dan bias kini tak berfungsi lagi,
Kini engkau terusir oleh nyanyian kami ” para jangkrik muda”.

Kini tibalah saatnya para bango yang mabuk akan air huja,
Bersusahpayalah kalian, mengais-gaislah busuknya amoeba disepanjang keringnya sungai yang airnya T’lah tertelang oleh sang maha surya.

Sewaktu engkau mengais-gais busuknya amoeba, engkau ditelan pula sang elang yang bercakar tajam dan bias,
Engkau hanya dipermainkan bagaikan scare crow untuk mengusir burung kutilang yang lapar akan biji-bijian.
Engkau hanya ditugaskan sementara untuk menjaga hasil curiannya, Di ladang curian Engkau mempertaruhkan nyawa-Mu,
Engkau hanya dipermainkan diladang hasil curiannya,
Semuanya akan berakhir oleh nyanyian “kami” para jangkrik muda.

Wa…hai, sang elang kini cakarmu yang tajam dan bias tak berfungsi lagi,
Engkau tak bisa lagi bertingkah semau-Mu,
Disini masih ada kami ” para jangkrik muda yang akan mengusirmu,
Dengan alunan suara yang kami miliki,
Engkau akan terhangus oleh terinknya Maha Surya ,
Sewaktu engkau masih mengayun-ayunkan dengan sayapmu yang bolong dbawah sinarnya.

Di alam yang hancur dan berantakan yang tak pernah terurus oleh pemilik-Nya,
Tak ada sejenis mahkluk apa-pun yang bisa menghalanginya ,
Sekali pun “Tuhan” anjingnya Bung Arfi dan Mba Anna,
Ia tak akan pandai memadamkan teriknya dengan air seni-Nya yang tak sampai seliter air.

Wa..hai sang lebah merah, kini tak ada lagi seekor mahkluk pun yang bisa mengangumu,
Sewaktu engkau sibuk membuat madu untuk generasi-Mu yang mendatang
Hanya dengan aroma dan sari dari bunga-bunga liar dan bunga kopi,
Engkau bisa menyiapkan bekal untuk anak cucu-Mu,
Bukan kentang dan gandum yang engkau bekalin dalam kresek anak-Mu,
Sewaktu anak-Mu mencari mata air yang jernih dan yang bisa mengairi sawah-Mu,
Waktu itu engkau hanya memiliki madu dari hasil jerihpayah-mu sendiri yang engkau bekalkan untuk anakmu.

Wa..hai, sang Lebah inilah nyanyian kami ” para jangkrik muda” yang terinspirasikan oleh teriknya Maha surya.

VIVA MAUBERE,
VIVA BUIBERE,
VIVA D’JONG SOSIOLOGI UAJY.

Oleh:
Odino Da Costa


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: