:opini: Kebijakan Pemerintah Membuat Beban Rakyat !

29 07 2009

Kebijakan Pemerintah Membuat Beban Rakyat !

Tingkat  kebutuhan bahan pokok dipasaran sampai pertengahan bulan Febuari 2008 masih mengalami naik dan turun, dimulai dari beras dan minyak goreng, disusul kedelai, susu, telur, ayam yang kesemuanya adalah sumber protein dan mineral bagi pertumbuhan. Kebutuhan akan kebutuhan pokok sangat menjadi sebuah fenomena dimana negara yang memiki sejumlah kebijakan atau solusi untuk mengatasi masalah yang sangat bersinambungan akan kehidupan. Dengan menaiknya sejumlah harga kebutuhan pokok maka akan membuat rakyat semakin menderita, sementara pihak kapitalis tetap memainkan perannya untuk menguasai alat produksi. Inilah yang menjadi masalah inti pemerintah hanya berpihak pada kepentingan para kapitalis dalam memainkan harga di pasar dengan demikian implikasinya adalah kebijakan pemerintah hanya berpihak pada kapitalis.

A. Latar Belakang

P

erbincangan mengenai naiknya sejumlah harga bahan pokok sudah kian tidak terdengar lagi di media baik itu media cetak dan elektronik. Padahal bahan pokok di pasar masih belum stabil. Dengan naiknya harga tersebut, maka harga makanan juga naik termasuk makanan ringan rakyat seperti : gorengan pisang, tempe, dan ubi goreng, mengalami dampak dari kenaikan harga kebutuhan pokok. Kenaikan itu juga dipicu dengan naiknya hampir semua komoditas (antara lain kedelai, tepung terigu, daging, telur, minyak goreng, gula, dan susu). Padahal itu merupakan kebutuhan pokok yang sangat esensial bagi kehidupan. Tidak saja kebutuhan sejumlah kebutuhan pokok yang sampai sekarang masih menjadi beban adalah naiknya  minyak tanah di pasaran  serta gas elpiji.

Kenaikan kebutuhan harga pokok juga dirasakan oleh pengusaha roti, tempe, dan pengusaha jasa catering dan pengusaha industri kecil. Karena para pengusaha ini menggunakan bahan baku seperti kedelai, minyak goreng, tepung terigu/gandum, dan gula. Sebenarnya permasalahannya yaitu komponen bahan baku itulah yang memicu naiknya harga-harga di tingkat konsumen. Sangat ironis, negara agraris seperti Indonesia mengalami krisis pangan yang akut. Ketergantungan kebutuhan pangan Indonesia masih mengandalkan impor. Akibat ketahanan pangan yang akut ini, pemerintah mengeluarkan kebijakan mengurangi beban pajak biaya masuk dan membebankan pengenaan pajak ekspor atas komoditas pangan strategis. Kebutuhan dana untuk melaksanakan kebijakan stabilisasi harga pangan pokok selama 2008 diperkirakan mencapai Rp 13, 7 triliun. Namun, alokasi dana untuk stabilisasi pangan harus memotong anggaran subsidi BBM dan listrik masing-masing Rp 10 triliun. Keputusan ini merupakan hasil rapat yang dipimpin Wapres Jusuf Kalla pada hari Selasa, 5 Februari 2008 (KOMPAS, 6/2/2008). Penghematan subsidi BBM dilakukan dengan membatasi premium dan konversi minyak tanah ke gas. Sementara itu, kebutuhan subsidi listrik PLN tahun 2008 mencapai Rp 70 triliun. Untuk menutupi kekurangan itu, PLN mempunyai tiga pilihan yakni menaikkan tarif dasar listrik, memadamkan listrik, atau mencari pinjaman lagi.

A.1 Kebijakan Semakin Kapitalis

Kenaikan harga beragam bahan kebutuhan pokok saat ini terjadi karena liberalisasi pasar yang dijalankan tidak memiliki jaring pengaman yang memadai. Mekanisme pasar seharusnya dijalankan dengan kesiapan pemerintah dalam melakukan stabilisasi dan pengaturan saat terjadi lonjakan harga. Pemerintah hanya bisa mengantisipasi kenaikan harga dengan cara menjamin stok barang sambil terus memantau harga di pasar. Pemerintah tidak bisa mengendalikan lonjakan harga di setiap komoditas barang. Hanya pedagang yang memegang kunci utama dalam alur perdagangan di pasar. Pilihan pemerintah untuk menyerahkan penyelesaian masalah pada mekanisme pasar telah menjadi racun luar biasa.

Pemerintah memahami permasalahan yang terjadi tetapi membiarkan dengan cara melumpuhkan diri dan sibuk mencari pembenaran. Penyerahan pada mekanisme pasar akan menghilangkan tanggung jawab pemerintah dalam menjamin terpenuhinya berbagai kebutuhan masyarakat. Mekanisme pasar tidak peduli apakah barang dan jasa akan terdistribusi dengan merata kepada seluruh masyarakat karena tugas pemerintah hanya sekadar meningkatkan jumlah produksi, bukan distribusi. Dengan demikian, sudah jelas bahwa mekanisme pasar tidak akan mampu mengatasi ketidakadilan dan kemiskinan. Sementara itu, kebijakan pengurangan subsidi BBM dan listrik dengan alasan mengurangi defisit APBN memang patut dipertanyakan. Pengurangan subsidi bukanlah solusi yang tepat untuk menutup defisit APBN, bahkan terasa tidak adil dan menyengsarakan rakyat.

Dalam banyak hal, selalu saja rakyat banyak yang dijadikan korban. Jika dihubungkan dengan perspektif sosiologi maka ini merupakan keberpihakan pemerintah kepada para pemilik modal (kapitalis) untuk memanfaatkan kesempatan untuk memperoleh keuntungan dengan terbatasnya ketersediaan sumber daya maka para proletar akan mengalami aliansi dalam kontrol untuk menerima kebijakan

Pemerintah dalam kapitalisme, negara sama sekali tidak berkewajiban menjamin kebutuhan publik seperti BBM, listrik, pendidikan, atau kesehatan masyarakat. Seluruh kebutuhan itu diserahkan kepada mekanisme hukum pasar. Hal ini diperparah sejak krisis yang menimpa Indonesia tahun 1997. Pemerintah Indonesia dulu secara resmi meminta bantuan dan campur tangan IMF dan Bank Dunia dalam mengatasi krisis ekonomi dan moneter. Salah satu tuntutan IMF adalah agar pemerintah menghapuskan subsidi yang sebelumnya digunakan untuk membantu masyarakat membeli BBM dan mengurangi tarif dasar listrik (TDL).

A. 2. Kesalahan Struktur dan Sistem

Permasalahan kebijakan kenaikan sejumlah harga kebutuhan pokok di pasaran merupakan permainan pasar, jika pemerintah mengambil kebijakan untuk menekan biaya masuk maka itu bukan merupakan solusi yang ditempuh tapi hanya akan menimbulkan permasalahan baru. Seharusnya pemerintah dapat menggunakan kontrol dan sistem pengaluran distribusi berbagai kebutuhan barang pokok sehingga harga di pasar dapat segera stabil. Pemerintah juga dapat menerapkan sistem dan struktur dalam pengambilan kebijakan sehingga kesalahan struktur tidak akan terjadi. Otoritas legal rasional yang dikemukakan Weber dapat dijadikan pertimbangan untuk megendalikan harga kebutuhan. Pemerintah juga dapat melihat lagi karya dari orde baru, pada masa orde baru pemerintah sangat memperhatikan sektor pertanian karena pemerintah waktu itu dapat melakukan peninjauan harga alat-alat kebutuhan pertanian seperti pupuk, air,dan bibit bahkan pemerintah pada masa orde baru memberikan solusi yaitu transmigrasi.

Pemerintah saat sekarang belum sepenuhnya membenahi struktur pertanian padahal pertanian adalah hal yang sangat penting bagi kehidupan mahalya harga pupuk serta murahnya harga gabah di tingkat tengkulak menyebabkan sektor ini akan segera ditinggalkan rakyat, rakyat akan beralih menjadi pengusaha dan banyak lahan para petani yang dijual sekarang sudah banyak perumahan yang berdiri seperti di Yogyakarta, Sleman hampir semua lahan sekarang sudah menjadi perumahan elite dengan berbagai sarana dan fasilitas.

B. Kesimpulan

Dari paparan di atas maka dapat disimpulkan bahwa kenaikan sejumlah kebutuhan barang pokok disebabkan oleh kebijakan pemerintah dan kontrol serta sistem dan struktur masih didominasi oleh kepentingan para kapitalis sehingga kebijakan yang diambil masih bersifat sementara tanpa ada upaya penanganan secara serius dari pemerintah. Pemerintah juga dapat menggunakan kontrol untuk memainkan harga pada tingkat pengecer.

Kebijakan yang dikeluarkan pemerintah hanya untuk kepentingan kapitalis sehingga rakyat menjadi dampak dari sejumlah kebijakan. Dalam mengatasi masalah pangan pemerintah dapat memberikan kebijakan akan ketersediaan harga pupuk di tingkat pengecer serta pemerintah melalui menteri pertanian dapat melakukan koordinasi sehingga hasil panen para petani tidak mengalami penurunan hasil.

hervan-


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: