Artikel: Pornografi, Kesadaran Seksualitas Perempuan dalam Dekonstruksi Posmodern

29 07 2009

PORNOGRAFI, KESADARAN SEKSUALITAS PEREMPUAN DALAM DEKONSTRUKSI POSMODERNISME

Oleh: Anka Yolanda

Era posmodernisme, rupanya sedang di minati oleh banyak orang, namun tidak sedikit pula yang mengecam kehadiran posmodernisme sebagai suatu hal yang tidak berujung. Wacana tentang pornografi sebagai bentuk kesadaran perempuan, telah mendekonstruksikan sebuah konsep oposisi biner yang telah “mengkolonialisasikan” tubuh perempuan sebagai tubuh yang termarjinalisasi. Melalui Teori Dekonstruksi milik Derrida, kita diajak untuk membongkar tatanan yang telah berakar dalam ranah sosial dan memunculkan prinsip saling mengakui dan menghargai “the others”.

Perdebatan mengenai munculnya posmodernisme setelah modernitas, cukup membuat para filsuf modernitas mengkritik habis-habisan karena ketidakjelasan bentuk dari posmodernitas.  Posmodernisme atau pasca-modernisme “agak sulit didefinisikan karena pasca-modernisme sendiri seperti disinyalir Derrida, menolak pendefinisian terhadap segala sesuatu-hal ini karena pendefinisian mempunyai  sifat reduksi yang menganggap adanya suatu kebenaran tunggal, apalagi pendefinisian juga akan membatasi penafsiran dan pemahaman.”[1] Posmodernisme dapat di katakan suatu pandangan yang muncul akibat dari ketidaksetujuan terhadap pemikiran modern, yang menekankan pada kemapanan dan kebenaran dalam metode melalui rasionalitas.

Pemikiran modern berasal dari zaman Aufklarung / pencerahan / enlightenment, yang ditandai dengan rasionalitas. Rasionalitas berarti ”kepercayaan pada kekuatan akal budi manusia. Suatu pernyataan boleh diterima sebagai benar dan sebuah claim hanya dapat dianggap sah, apabila dapat dipertanggungjawabkan secara rasional.”[2] Sedangkan yang dimaksud dengan irrasional yaitu yang meliputi tindakan tradisional yang menurut Max Weber yaitu “Tindakan yang dilakukan oleh seseorang / individu yang memperlihatkan perilaku karena kebiasaan, tanpa refleksi yang sadar atau perencanaan.”[3] Jadi pada saat itu, masyarakat berpikir secara rasionalitas modern (berpikir seperti mesin) dan rasionalitas instrumental (pencapaian efisiensi dalam mencapai tujuan untuk kapitalisme).

Posmodernisme kemudian muncul sebagai pembunuh atas rasionalitas, karena tulisan-tulisan hasil filsuf barat pada jaman pencerahan didasarkan pada “logosentrisme” atau “metafisika kehadiran”.  Logosentrisme selalu mengandaikan logos atau kebenaran atau rasionalisasi. Pada rasionalisasi, semua pikiran dan tindakan harus dipertanggung jawabkan dengan alasan yang rasional. Pada tulisan-tulisan filsuf barat, “Kehadiran” penulis / pengarang sebagai subyek yang mempunyai otoritas terhadap makna yang disampaikan. Inilah yang disebut Derrida sebagai Metafisika Kehadiran.

Posmodernisme, kategori Literary Studies

Posmodernisme merupakan suatu gerakan beragam dimana mempunyai tujuan untuk membendung ambisi modernisme sebagai proyek pemikiran dengan sifatnya yang merayakan perbedaan dan pluralitas serta menolak untuk mereduksi ke dalam satu pengertian.

Secara umum, posmodernisme dapat diklasifikasikan menjadi tiga kategori meski kategori ini tidak bisa dilihat secara ketat[4] :

  1. Pemikiran yang merevisi paradigma kemodernan dengan merujuk kembali pola-pola berpikir pramodern, meski tidak dalam artian primitif. Misalnya dalam gerakan-gerakan spiritual yang menekankan pada tradisi metafisika klasik seperti Taoisme dalam rangka mengkritik modernisme dimana kenyataannya masyarakat modern lebih suka berpikir rasional, linear, materialistik dan mekanistik, sedangkan dalam ajaran ini perlu ada penyeimbangan dengan pengetahuan intuitif, non linear dan koordinatif.
  2. Merelevansikan kembali modernitas di tengah perubahan pesat yang menuntut pada keterbukaan akan perbedaan. Nilai modern, seperti rasionalitas atau kebenaran objektif tetap diakui namun terbuka untuk menerima kritik dan pluralitas. Contohnya yaitu Juergen Habermas dalam opusnya “rasio komunikatif” meletakkan dialog dan konsensus sebagai upaya untuk merevisi wajah modernisme di era posmodern.
  3. Terkait dengan Literary Studies dan meminjam paradigma dan pendekatannya dari disiplin linguistik. Kata kuncinya yaitu “dekonstruksi” – sebuah istilah yang diperkenalkan oleh Heidegger sebagai destruktion dan diradikalkan oleh Derrida dengan “la deconstruction” . Dikatakan radikal karena Heidegger dengan konsep “destruksi”-nya hanya mengkritik sebuah bangunan epistemologis, yaitu berupa tradisi metafisika Barat, namun terbuka peluang untuk merekonstruksikannya. Sedang Derrida tidak hanya mengkritik namun merombak dan mencari hal-hal lain dan tidak terbuka peluang untuk mengkonstruksikannya kembali.

Dekonstruksi : Upaya Membela “teks” lain

La Deconstruction, sebuah kata berbahasa prancis yang diperkenalkan dan dikembangkan oleh Jacques Derrida (1930-2004) yang begitu identik dengan filsafat posmodernisme. Dari akar katanya, de dan construire, mewakili sebuah hasrat dan cita-cita untuk membongkar bangunan yang sudah terkonstruksikan. Dekonstruksi merupakan teori terbuka bagi siapa pun yang ingin menafsirkannya. Lebih jauh dikatakan bahwa dekonstruksi bersifat antiteori atau antimetode. Kecenderungan ini membuat para ilmuan menyebutkan bahwa Dekonstruksi merujuk pada nihilisme dan hanyalah “Intellectual Gimmick” (tipu muslihat intelektual) yang tidak berisi apa-apa pada saat kita membaca teks dan mempermainkannya dalam parodi. Pendapat ini tidak beralasan, mengingat bahwa Derrida mendekonstruksikan term yang telah mengakar begitu kuat dalam ranah sosial. Ia malah mempertanyakan kebenaran apa dan bagaimana yang telah di tetapkan oleh pemikir modern.

Dekonstruksi merupakan strategi untuk mengupas lapisan makna tertindas yang ada di dalam “teks”. Teks dan bahasa adalah realitas sosial. Dan bahasa memiliki dua sisi ; bahasa sebagai parole (lisan) dan sebagai langue (sistem tanda), dan sebagai “tanda”, dalam bahasa ada dua aspek yang diperkenalkan oleh Ferdinand de Saussure (1867-1913) seorang ahli bahasa yang melahirkan ilmu linguistik umum yang disebut Semiologi (ilmu tentang “tanda) yang menentang tradisi metafisika dengan mengatakan bahwa tinanda (ditandakan-konsep) tidak terpisahkan dari petanda (aspek material dari tanda). Makna sebuah tanda (kesatuan diantara keduanya) diperoleh dari perbedaan tanda itu dengan tanda yang lain.

Salah satu sasaran yang didekonstruksikan oleh Derrida yaitu teks yang berkecenderungan dengan cara berpikir dan tradisi pemikiran Barat yang lekat dengan logosentrisme, phallogosentrisme dan oposisi biner. Phallogosentrisme, dimana arti phallus (alat kelamin laki-laki) sebagai pusat aturan simbolik dan memasuki bahasa sebagai struktur, sehingga sangat bias gender karena didominasi oleh laki-laki.

Sasaran berikutnya yaitu mendekonstruksikan model oposisi biner. Oposisi biner merupakan produk dari “budaya”(produk dari sistem penandaan). Makna tanda mulai menyempit sehingga menjadi pertentangan diantara dua kubu atau oposisi biner. Lalu “laki-laki” dihadapkan dengan “perempuan”, “publik” dengan “privat”, dst. Sebenarnya makna lewat oposisi tidak bermasalah, karena dengan cara itulah bahasa beroperasi. Namun, lain soal bila salah satu dari kata mendominasi yang satunya. Yang menurut Derrida bahwa hubungan 2 term yang saling beroposisi bukanlah hubungan yang setara, tetapi hubungan hirarkis yang brutal. Hal inilah yang menyebabkan Derrida menentang pemisahan mengenai tanda itu sendiri yang dalam tradisi Metafisika dipisahkan.

Dekonstruksi Tubuh Perempuan : Perlawanan terhadap Feminis Radikal Kultural

Tubuh perempuan pada masa kolonial dianggap dalam oposisi biner yang di dominasi yaitu oposisi terjajah, biadab dan irrasional. Penggugatan konstruksi sosial yang memojokkan kaum marjinal menyebabkan lahir yang disebut Postkolonial. Postkolonial mendekonstruksikan wacana-wacana atau isu-isu yang terstruktur. Pornografi misalnya, telah mendekonstruksikan tubuh perempuan yang dianggap oleh kaum agamis dan gerakan feminis radikal kultural sebagai eksploitasi tubuh perempuan yang mengotori nilai-nilai atau norma-norma dalam masyarakat. Lebih-lebih di Indonesia yang masih memegang teguh agama dan kultur ke-timur-an.

Feminis radikal kultural mengklaim pornografi membahayakan dengan tiga cara[5]: (1) Dengan mendorong laki-laki untuk berperilaku secara seksual berbahaya bagi perempuan (misalnya; pelecehan seksual, perkosaan, penganiyaan terhadap perempuan), (2) menistakan perempuan sebagai manusia yang tidak mempunyai penghargaan terhadap diri sendiri, karena mereka baik secara aktif mencari; ataupun secara pasif menerima penganiayaan seksual dan (3) dengan mengarahkan laki-laki untuk tidak saja berpkir bahwa perempuan adalah manusia yang kurang, tapi juga memperlakukan warga negara kelas dua, yang tidak layak untuk mendapat proses serta perlakuan yang setara dengan apa yang biasa di dapat laki-laki.

Aliran ini merasa bahwa perempuan musti melakukan aksi anti terhadap pornografi yang di nilai merendahkan martabat kaum perempuan, dimana hal tersebut menjadikan (lagi-lagi) sebagai kaum marjinal (kaum yang di dominasi oleh laki-laki) dan semakin menyuburkan budaya patriarki.

Pornografi dalam jaman posmodern menyebabkan keterbukaan bagaimana perempuan mempunyai hak atas dirinya sendiri, baik dari cara berpakaian hingga masalah seks. Perempuan memiliki hak untuk menunjukkan se+ksualitas dirinya dan perempuan dapat mengeksplorasi “bagi dirinya sendiri” yang selama ini kehadirannya hanya untuk laki-laki. Fenomena Madonna yang populer dengan video klip vulgarnya “like a virgin and material girl” adalah simbol dari representasi akan eksplorasi tubuhnya, tanpa ada eksploitasi dari laki-laki. Madonna yang kemudian diikuti oleh banyak penyanyi-penyanyi perempuan seperti Spice Girl, The Pussycat Dolls, Mariah Carey, dsb.

Awalnya banyak yang “kaget” bahkan ketakutan (baca http://www.kapanlagi.com/h/0000188925.html) melihat kedua video klip yang dianggap terlalu vulgar memamerkan seksualitas tubuhnya. Namun, Madonna dan penyanyi perempuan lainnya mempunyai hak atas tubuh dan dirinya dalam merajai kekuasaan dan kapitalisme. Dalam hal ini, Madonna telah mendekonstruksikan tatanan lama dari oposisi penjajah >< terjajah (tubuh perempuan  dijajah laki-laki) menjadi posisi ambigu yaitu tubuh perempuan untuk dirinya sendiri. Tidak ada kategori yang masuk ke dalam rezim lama yang terkonstruksi. Konstruksi itu telah tercabut hingga akarnya.

Penutup

Posmodernisme muncul sebagai upaya mencundangi modernitas yang terlalu terpaku pada logos. Dekonstruksi yang telah diteorisasikan oleh filsuf Prancis bernama Jacques Derrida telah membawa kita untuk memperjuangkan menjadi subyek serta membuka mata, telinga, pikiran terhadap hal-hal diluar konstruksi sosial, tanpa sebuah usaha untuk menjadikannya yang beda menjadi sama.

Fenomena Madonna adalah salah satu isu pornografi melawan pemikiran kalangan feminis radikal kultural yang menganggap bahwa laki-laki membahayakan tubuh perempuan, karena merasa laki-laki selalu menjajah, di dekonstruksikan dalam pembalikan bahwa perempuan dapat menguasai, mengeksplorasi tubuhnya untuk kepentingan dirinya dan bahkan untuk kapitalisme.

REFERENSI

Al-Fayyadl, Muhammad. Derrida. Yogyakarta : PT LKIS Pelangi Aksara, 2005

Harian Pagi Kompas, tulisan Budiarto Danujaya. “Obituari Jacques Derrida (1930-2004) :Dekonstruksi dan Kontroversi.”  Minggu, 17 October 2004. hal. 17

Harian Pagi Kompas, tulisan Farah Wardani. Perempuan sebagai tanda [Dekonstruksi Jender dalam Teks dan Praktik Seni Rupa]

Johnson, Doyle Paul. Theory Sociology Classic and Modern,terj.Robert M.Z.Lawang. Jakarta : PT Gramedia,1988

Jurnal Ulumul Qur’an

Majalah BASIS. Edisi Khusus DERRIDA. Yogyakarta : Kanisius, November – Desember 2005

Suseno, Franz Magnis,. Filsafat Sebagai Ilmu Kritis. Yogyakarta : Kanisius, 2003

Tong. Rosemarie Putnam. Feminist Thought, Pengantar Paling Komprehensif kepada Arus Utama Pemikiran Feminis, terj. Aquarini Priyatna Prabasmoro.  Yogyakarta : Jalasutra, 1998

Dari internet :

http://aliaswastika.multiply.com/reviews/item/15

http://islamlib.com/id/index.php?id=760&page=article

http : // 72.14.235.104/search?q=cache:oaqXiQZ_RRwJ : www.idp.com/adsjakarta/returnedstudents/Artikel-Dewi02.doc+poskolinal%2Bseksualtias&hl=id&clnk&cd=4&gl=id

http://interseksi.org/publications/essays/articles/poscolonial. html. tulisan Mariana Amiruddin. “Postkolonial : Melihat Persoalan Menjadi Lebih Arif


[1] Dikutip dari Luthfi Assyaukanie, “ISLAM DALAM KONTEKS PEMIKIRAN PASCA-MODERNISME, Pendekatan Menuju Kritik Akal Islam.” Jurnal Ulumul Qur’an, hal 21

[2] Franz Magnis Suseno,. Filsafat Sebagai Ilmu Kritis. Yogyakarta : Kanisius, 1991. hal.65

[3] Doyle Paul Johnson. Theory Sociology Classic and Modern,terj.Robert M.Z.Lawang. Jakarta : PT Gramedia,1988. hal 221

[4] I. Bambang Sugiharto. Posmodernisme : Tantangan Bagi Filsafat. Yoygakarta : Kanisius, 1996. hal.29

[5] Rosemarie Putnam Tong. Feminist Thought, Pengantar Paling Komprehensif kepada Arus Utama Pemikiran Feminis, terj. Aquarini Priyatna Prabasmoro.  Yogyakarta : Jalasutra, 1998. hal. 99


Actions

Information

3 responses

29 07 2009
julien

oh, i can’t believe what i’ve done.

could you really deconstruct what people’s thought (for instance) about woman’s body on this context with only the theory of derrida. if you say madonna, i should say recording labels. when you say a naked woman on a visual arts, i should say, there’s many aestheticism or cultural or maybe materiality aspects you should put into it.

before i start, i smell that you’ll be agree with me when i say, according to you, sexuality is something that pornography shows as its substance, am i right?

1. as the world know, pornography is really industrialized in some relevant countries, and you know it’s really significant to what people think about sexuality, because its containing . people turned their perception about porn, its become something inside the package as a something ‘shiny’, worth enough to buy, worth enough to consume, i suppose. (you see that how many people hail maria ozawa a.k.a miyabi or why prostitute be something really popular, i supposed…). according to me, you can’t even find a human sexuality on a pornography. it’s not really significant on this age. you know, sexuality is not about an extraordinary size of something on it, or a thousand moans in the mornings, or orgy, or somebody or anybody naked…industry creates this image, i supposed. let’s realized that people could put anything into industry or media industry to get some kinda appreciation or the simpler, reaction from another people.
you know, writer,could you spell word ‘appreciation’?
knowledge of people about some media PRODUCT, influencing their appreciation to it?
i will focus it on the example that you’ve made. and maybe, in this context, the feminist could be right, how many sexual violence that porn stuffs made? for example, you only could do nothing when people do masturbation when they watch something. people stil do it, even it’s madonna. or you can’t prohibit man desiring sexual intercourse when they see madonna.
i think you could write about how porn magazines could live and be a big business. you know the famous pramoedya ananta toer wrote on playboy indonesia which is known as a porn magz. or maybe the struggle of marquis de sade on his activity to express sexual activity. it’s really a literary issue…
2. you know, maybe 80-90 singer, musician or artist, like you mentioned above, is really acquainted with popular culture. many artist shows and try to make people’s perception about ‘what is pop?’. the cure, david bowie, lou reed and their beautiful music, you know they shows androgynous culture, and madonna industry as a musical product who compete with another more musical musicion, put the sexy and independent image on her clips, that makes her an icon.

the one who really conscious about human body and sexualities on that ages is the one and only mr.capitalismo. so, without recording labels, clip director, avant garde, visual art, popular culture, media industry, stil madonna could be ‘that’ conscious about her body?

so, if you wanna be really conscious about your sexuality, or, what you even think about sexuality, ehm, sorry, i mean female sexuality, let’s talk about marquis de sade’s work, or maybe michel foucault’s works…

you, writer, maybe, you could broadcast yourself on the you tube, naked, reading derrida’s theory about deconstruction, and holding a banner with the ‘i’m really conscious about my sexuality’ writing, then dancing like a madonna. your writings really sounds like that.
it’s just another people who eaten by image that media built.

derrida is crying on his graves.

you can’t use language systems or deconstruction systems or theory to structured a popular phenomena or media product. it’s a really different things.

personally, do you even ever get a porn stuff?get one!

do you know that your boyfriend maybe, sorry, many men got their definition of sexualities from the porn stuffs?
pornography business construct men perception about sexuality.
not only about female’s body, i suppose.

reality bites!

29 07 2009
julien

Pornografi dalam jaman posmodern menyebabkan keterbukaan bagaimana perempuan mempunyai hak atas dirinya sendiri, baik dari cara berpakaian hingga masalah seks. Perempuan memiliki hak untuk menunjukkan se+ksualitas dirinya dan perempuan dapat mengeksplorasi “bagi dirinya sendiri” yang selama ini kehadirannya hanya untuk laki-laki.

hello, professional pornstar!
give me your autograph!!!

oh, how i like pornstars courages and naivety….

11 08 2009
Ivan

Hmn..Berhimpitan dengan posfeminisme ya..? Menggugat epistemolgi feminis (yg sama-sama dianggap modern dan mendominasi) dan merayakan pluralitas keperempuanan. Hmn….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: