Artikel : Fenomena Posmodern Dalam Life Style Fokus Kajian: Fashion Harajuku di Japang apakah sebuah fenomena Posmodernitas?

29 07 2009

Fenomena Posmodern Dalam Life Style

Fokus Kajian: Fashion Harajuku di Japang apakah sebuah fenomena Posmodernitas?

Oleh Fredek Efendi Lodar

Introduksi

Manusia adalah mahluk pembuat sejarah, dalam kehidupan keseharian entah sadar atau tidak sejarah terus diproduksi.

Ke-budaya-an merupakan bagian inklusif dalam sejarah itu sendiri, sehingga berbicara mengenai sejarah berarti harus disandingkan dengan budaya.

Kebudayaan yang telah dibentuk menciptakan sebuah status quo yang sulit diubah. Perubahan atas status qou dipandang sebagai sebuah hal yang tidak ajek atau anormaly.

Jaman modern yang dibangun sejak renaisance yang mengangung-agungkan ilmu pengetahuan dengan janji-janji penyelamatan terhadap umat manusia telah menciptakan berbagai kebenaran oleh manusia. Manusia dan ilmu pengetahuannya yang rasional merupakan sentral dari kebenaran. Pada saat manusia menciptakan teori yang objektif sehingga menciptakan grand narasi dan mengarah pada terciptanya sebuah keuniversalan yang dijadikan mutlak, hal-hal yang bersifat relativisme, subjektif serta parsial ditolak sehingga mutltikultural dan pluralisme disangkal pada zaman modern.

Ketika muncul sesuatu entitas yang beda dari status quo, itu pada akhirnya dipandang ‘aneh/janggal’. Fenomena Harajuku, di Tokyo merupakan life style beda dan ‘aneh’ karena tidak sesuai dengan life style yang umumnya diperankan oleh masyrakat Jepang pada khususnya dan masyrakat dunia pada umumnya.

Harajuku merupakan suatu fenomena budaya baru yang cukup manarik perhatian dunia fashion internasional. Betapa tidak fashion life style ini langsung di adopsi oleh banyak negara termasuk Indonesia.

Sejarah

Term Harajuku yang kini dikenal populer sebagai sebuah life style fashion, berasal dari nama sebuah kota di kawasan sekitar Stasiun JR Harajuku, Distrik Shibuya, Tokyo, dimana Kawasan ini dikenal sebagai tempat berkumpulnya anak-anak muda dengan mengenakan pakaian yang full colour dengan perpaduan warna yang tidak ‘matching’ atau tidak sesuai (perspektif modern) Bukan hanya cara perpakaian yang full colour, rambut dan wajahpun demikian. Rambut diwarnain dengan warna-warna yang mencolok/terang dan wajah di make-up ala gothic, dan tokoh-tokoh dalam film kartun seperti Sailor moon. Annon-zoku adalah istilah bagi perempuan yang bergaya demikian di Harajuku, Tokyo.

Sekitar tahun 1990-an kawasan jalan di Harajuku makin ramai sejak dijadikan sebagai area khusus pejalan kaki. Tempat ini menjadi sangat favorit bagi anak mudah untuk bersantai. Disitu kemudian dijadikan sebagi ruang anak-anak mudah untuk mengekspresikan diri dalam hal fashion.

Harajuku kemudian berkembang menjadi suatu trendsetter life style fashion yang tidak hanya berkembang di Jepang, namun keluar ke negara-negara lain termasuk Indonsia. Artis-artis Indonesia seperti, Ratu (Maya dan Mulan Kwok), dan Agnes Monika, adalah gambaran segelintir individu yang mengadopsi fashion tersebut.  Semakin memboomingnya sehingga di Indonesia kini banyak salon-salon yang menyediakan jasa fashion ala  Harajuku atau sering di istilahkan juga dengan Japanese Style. Bukan hanya artis-artis yang berbusana ala harajuku, anak-anak muda di kota-kota metropolitan pun telah mengadopsinya, di Bandung baru-baru ini berlangsung event fashion show Japanese style.

Motif kemunculan Life style Fashion Harajuku

Berbicara mengenai suatu tindakan sosial berarti ada motif yang mendasarinya sehingga terwujud dalam tindakan nyata. Jepang terkenal sebagai salah satu negara industri raksasa di Asia bahkan di Dunia. Kehidupan masyrakat  Japang telah diformat oleh etos kerja yang memiliki disiplin tinggi terhadap waktu dan budaya membuat masyrakat. Budaya yang dimaksud disini penekanannya pada aspek fashion/berpakaian. Keseragaman adalah hal yang menjadi pemandangan sehari-hari di Tokyo, terutama di hari-hari kerja. Para pegawai kantoran berdandan sangat formal dengan mengenakan pakaian yang seragam seperti, mengenakan jas hitam atau yang berwarna gelap, celana gelap, berbaju putih dengan dasi gelap, menenteng tas, rambut tersisir rapi, dengan gaya jalan yang cepat. Kemudian bagi kaum pelajar diwajibkan mengenakan pakaian seragam yang rapi dan sopan, dimana siswi-siswi diwajibkan memakai rok yang panjangnya dibawah lutut.

Poin – poin Persoalan

Apakah fashion harajuku merupakan sebuah aksi protes secara halus menentang struktur keseragaman yang ada, dimana korban keseragaman telah merasa jenuh dengan status quo fashion yang kaku dan formal ? Apakah karena itu harajuku sebagian new culture dapat disebut sebagai suatu budaya posmodernitas yang muncul karena kehidupan modern dipandang telah usang?.

Membahas persoalan

Right of different adalah salah satu ciri dari posmodernitas, dimana masing-masing individu memiliki hak untuk menunjukan keberadaan dirinya. Hak untuk beda dijunjung oleh postmodern karena itu, posmodernisme sering dipandang sebagai dewa penyelamat bagi orang-orang yang memiliki perbedaan dengan orang-orang lain pada umumnya.

Perbedaan yang lahir dalam masyrakat pada umumnya terjadi karena adanya ketidak cocokan individu-individu dengan keadaan yang sedang dijalaninya sekarang (protes terhadap status quo), misalnya tidak puas dengan suatu ideologi, regulasi pemerintah dan norma dalam sebuah pranata.

Fashion Harajuku secara substansi merupakan bentuk entitas generasi mudah di Tokyo, sebagai wujud protes secara halus terhadap fashion yang ada dalam masyrakat Jepang. Tercuptanya kekakuan fashion masyrakat Jepang adalah regulasi yang ditetapkan oleh institusi-insitusi seperti perkantoran, pabrik dan sekolah. Sedangkan jika orang memandang secara esensialis berarti harajuku hanya  dilihat sebagai sebuah life style dalam hal fashion.

Kekakuan dan keformalan fashion membuat para remaja di Tokyo jenuh dan jengkel, mereka ingin membuat perubahan dilevel struktural yang menciptakan kekakuan itu, namun tidaklah mudah. Kebudayaan yang diciptakan oleh tangan-tangan penguasa membutuhkan kuasa pula untuk merekonstruksinya. Sebagai bentuk ketidak mampuan dalam merubah pranata tersebut mereka salurkan dalam bentuk fashion.

…cara berdandan seperti itu merupakan identifikasi dari sebuah pemberontakan terhadap berbagai sisi dan aspek kehidupan masyarakat Jepang yang hanya terpola waktu yang ketat, kedisiplinan, dan sama sekali tidak mempunyai ruang ekspresi[1]

Fashion Harajuku sebagai suatu estetika posmodern

Fashion Harajuku merupakan estetika posmodern. Karena merupakan kebalikan dari estetika modern yang memandang keindahan secara objektif yang diuniversalkan. Dalam estetika postmodern, keindahan merupakan hal yang sangat intuituif, sehingga sebjektifitaslah yang berperan dalam melihatnya.

Estetika modern fashion Harajuku dinilai aneh dan “nyelono” dikarenakan tidak ‘mecing’ dalam hal berbusana. Dalam fashion modern kesimetrisan, keserasian, atau keteraturan itulah yang mengandung nilai estetika. Harajuku disebut estetika posmodern karena keindahan atau estetika itu sangat relativ dan subjektif. Fashion harajuku yang dilihat dari perspektif modern tidak mecing sebaliknya dari perspektif posmo itulah keindahan yang sesungguhnya yang ditampilkan oleh para individu dalam menujukan entitas diri.

Oposisi biner yang berlangsung dalam modernitas berujung pada penunjukan salah satu pihak keluar sebagai yang terbaik (superior). Fashion yang selama ini digunakan oleh remaja di Tokyo yang serba diformat adalah status quo yang terus dijaga, dimana unsur kekuasaan atau dominasi salah satu pihak kepada pihak lain.

Pihak yang dimaksud disini adalah pranata atau insitusi-institusi sosial. Seperti lembaga pendidikan dan lembaga ekonomi dalam hal ini pabrik dan perkantoran.

Menurut Faucoult dalam setiap pola hubungan dalam masyrakat ada tersirat unsur kekuasaan yang satu terhadap yang lain, sehingga menimbulkan adanya domonasi-dominasi satu terhadap yang lain. Pranata sosial dalam hal ini instutusi pendidikan dan ekonomi memformat gaya berbusan. Ini lahir dari suatu pemikiran yang objektif bahwa berbusan yang baik bagi pelajar dan pekerja haruslah demikian. Hal tersebut mematikan kreatifitas individu untuk berekspresi.

Meminjam istilahnya Niestche ‘Dionisia‘ sikap individu yang lebih mengutamakan kebebasan atau kemaun diri dari pada mengikutu aturan yang dibuat oleh masyrakat. Ini merupakan sifat yang ditunjukan oleh para Annon-zoku (remaja Di Tokyo yang berdandan harajuku).

Relativisme dalam ilmu pasti saja ada apalagi dalam ilmu sosial kritik postmo terhadap modern yang terlalu mengagungkan positivisme dalam melihat persoalan sosial dalam masyrakat.

Pada akhirnya dapat ditarik sebuah asumsi bahwa life style  Harajuku yang dilakoni oleh para remaja di Tokyo, Jepang merupakan suatu bentuk fenomena posmodern, karena lahir sebagai bentuk kekecawaan dan protes terhadap fashion anak mudah di Tokyo yang kaku karena format oleh keseragaman secara struktural yang telah membudaya.


[1]Dikutip http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/082007/22/1001.htm dari Artikel yang berjudul: Harajuku Simbol Pemberontakan yang dikelola oleh Pusat Data Redaksi Bandung.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: